Chokyuqhielf13's GaemGyuZonE

Benar. Sekarang aku sedang berada dalam keadaan yang baik, teramat baik dan tidak akan terlihat sebagai seorang gadis yang mengalami kisah kehidupan yang rumit diluar. Sejujurnya, dia bukan satu-satunya alasan hidupku menjadi rumit. Banyak hal. Luka terbesarku adalah diriku sendiri. Dan sekali lagi, aku tidak yakin sebenarnya. Tapi sepertinya aku adalah seorang introvert yang meski cerewet (dimata keluarga) aku bisa menjamin secara keseluruhan yang benar-benar tahu aku luar dan dalam hanyalah Allah SWT. Lingkungan keluargaku sudah membentukku menjadi seperti ini secara halus. Mengoreskan sebuah luka yang tidak pernah kusadari (atau bahkan pernah tapi selalu kutolak) meski terasa nyeri tapi tidak sedikitpun membuat wajahku meringis dan hanya membiarkanku mencari sendiri obat untuk meredakan nyeri itu. Aku sudahlah terbiasa berkawan dengan nyeri yang meskipun orang lain coba menabur garam dilukaku maka tidak akan berpengaruh banyak. Karena walaupun perih, yang merasakannya hanyalah aku dan melihatnya hanyalah Allah, Tuhanku. Jadi, apa aku terlihat semakin melankolis?

Hanya segelintir orang yang mampu memberikanku keyakinan untuk membagi kisahku, bukan karena aku tidak mempercayai mereka tapi lebih karena sikap cuek yang kumiliki sehingga kadang aku berpikir, semakin aku bercerita semakin orang lain akan ikut menanggung beban yang seharusnya masih mampu untuk kuangkat meski aku hanya sendiri. Jika memilih, maka aku akan memilih perasaan mereka dibandingkan mereka harus melihat aku yang cuma satu orang ini menangisi dan membagi kesedihannya bersama orang lain (mereka). Benarkah jika aku benar-benar seorang pemikir sekarang?

Aku adalah seorang gadis. Kelak akan menjadi wanita. Akan menjadi seorang istri dan seorang ibu. Akulah yang mencari mahram untuk kehidupanku, tapi Allah lah yang akan menentukannya untukku. Aku, malam ini merindukan dia yang kukenal. Setelah cukup lama aku mencoba mencari teman yang lebih baik dari dia yang kukenal, tapi yang kutemukan adalah diriku yang masih sama dengan diriku yang dulu saat masih berusaha mengenal dia sekarang sedang menutup mata dari yang mungkin jauh lebih baik darinya. Dinding hatiku ini mengizinkan dia pergi tapi menolak membiarkan dia yang lain memasuki pintunya. Inilah keegosianku. Keegoisan yang menyakitkan. Aku melepasnya karena aku tidak ingin mengurungnya bersama keegoisanku. Aku membiarkannya pergi karena aku ingin melihat kedua sayapnya berkepak sempurna. Aku membiarkannya berlalu didepanku tanpa meminta sedikitpun dia berhenti dan menenangkanku dengan kata-katanya (saat itu). Ya, aku yang membiarkannya masuk dan keluar dalam kehidupanku berkali-kali. Aku mengizinkannya masuk saat dia ingin masuk dan memperbolehkannya keluar saat kurasakan sudah tidak lagi betah berlama-lama di dalamnya meski dia menolaknya. Karena itulah aku yang bodoh. Aku yang bersalah. Aku tersenyum mengingatnya, masih bisa?. Tentu, karena dia tidak benar-benar menyakiti perasaanku. Dia tidak benar-benar melukai hatiku, karena akulah yang melakukannya sendiri. Dan karena “nyeri adalah kawanku” dan bukan hal aneh karena aku terbiasa bersama nyeri. Nyeriku tidak memiliki skala.

Malam itu. Entah untuk keberapa kalinya, aku kembali mendapati diriku berdebar menerima teleponnya. Aku mengutuk diriku sendiri. Harusnya, dia yang kukenal itu tidak lagi kubiarkan masuk dalam hatiku. Tapi ternyata aku salah, dia bahkan tidak benar-benar kubiarkan pergi dari hatiku. Malam itu, kuhabiskan waktu berlama-lama untuk mengenang kebersamaanku dengannya dulu. Dia yang memulai. Tapi ini jelas kesalahanku sendiri. Pergumulan malam yang jarang sekali kutemui bahkan saat bersamanya (dulu). Terasa menyenangkan (sesaat) saat kembali mendengar suaranya walaupun jarak menjadi penghalang untukku bisa membiarkan mataku menatap tiap lekuk wajahnya yang (hampir) kulupakan saat ini. Aku tahu aku akan merasakannya lagi. Perasaan sesak itu. Tapi egosentrikku memaksaku untuk jalan terus dan berhenti saat dia bilang berhenti. Seharusnya aku mengikuti kata hatiku. Tapi pantang untukku menyesal, terutama karena kebodohan sendiri. Rasanya, seperti kau melihat kumparan air ditengah oase saat kau dahaga. Tapi saat mendekat, dia tak lebih dari sebuah fatamorgana. Beginilah dia yang kukenal sekarang. Fatamorgana paling nyata dihidupku.

Mencintai, pengharapan, dan kasih sayang. Aku merasakannya. Tapi setiap detik yang kuhabiskan untuk meluangkan waktu menyelipkan namanya disetiap doaku hanyalah detik dimana aku sanggup bertopang pada kedua kakiku untuk melihat dia bahagia. Allah yang menjadikanku kuat. Dia bahagia, dan malam itu dia membagi kebahagiaannya padaku. Artinya Allah mengabulkan doaku, dia yang kukenal tidak lagi terjerat dalam jeruji yang dulu kami bangun. Kini dia yang kukenal sudah bebas sepenuhnya. Sesak entah untuk yang keberapa kalinya kurasakan hanyalah bisa kusesap dan kuperlihatkan padanya dengan tawa riang yang dia ingin sekali melihatnya diseberang pembicaraan kami. Dia bertanya banyak hal tentang kebiasaanku yang diingatnya. Aku hanya bisa berterima kasih dalam hati sembari tersenyum padanya. Senyum yang tidak bisa dia lihat. Senyum yang sedikit menyakitkan (harus kuakui). Aku berterima kasih bukan karena pertanyaan-pertanyaannya yang begitu menghiburku malam itu, tapi lebih karena tidak pernah kusangka karena dia masih mengingat sebagian dari diriku. Dia masih mengingat kebiasaanku. Dan dia yang kukenal masih merasa nyaman berbicara denganku. Aku melambung. Iya, hatiku seakan memiliki sepasang sayap untuk terbang setinggi mungkin. Tapi saat kuingat kenyataan yang harus kuterima, adalah dia menganggapku tidak lebih sebagai seorang saudara yang baik dan sekarang aku memutuskan untuk tidak terbang sebelum aku jatuh. Ya. Karena dia telah menemukan apa yang selalu kudoakan dalam setiap munajatku, dalam setiap sujudku. Dia menemukan kembali hatinya. Hati yang baru dan sejak malam itu aku berjanji tidak akan sedikitpun menyentuh hatinya bersama hati yang baru dimilikinya karena akan lebih bijaksana jika aku memilih jalan mencintainya dalam diam sementara aku menunggu Allah mendekatkanku dengan orang baik lainnya selain dia.

Sesak. Sesak. Sesak. Tapi beginilah. Aku memilih merasakan sesak dan membiarkannya tersenyum padaku (meski aku tidak melihatnya malam itu). Dia yang kukenal sebagai pribadi yang baik. Dia yang dengan sopan menyanjung segala sikapku padanya. Dia yang mengenang hal terbaik dariku dimatanya. Sempat kuminta dari dia yang kukenal itu untuk jangan hanya melihat aku yang terbaik dari diriku tapi dia berkata “aku hanya ingin mengingat segala yang baik darimu”. Iya. Aku tahu dan hanya membiarkannya. Entah hal apa yang sedang direncanakan Allah untukku. Tapi hingga detik ini, aku dengan jujur mengatakan hatiku tidak benar-benar bisa melepasnya (sekarang). Dan sebenarnya aku masih menyimpan sedikit harapan kalau aku bisa menjadi salah satu alasan dia untuk bahagia. Ya, meski itu terdengar seperti lelucon. Menjadi bagian dari alasan atas kebahagian orang lain itu sungguh lebih dari cukup meski aku harus mengakhiri sebelum memulainya.

Dia yang kukenal ini memang bukan satu-satunya orang yang menjadi salah satu inspirasi tulisanku. Hal termelankolis yang pernah kutulis adalah saat kehilangan (juga). Mari melihat sisi lain dariku, melankolis itu bukan hanya karena kehidupan asmara semata. Hidupku tidak melulu tentang cinta untuk lawan jenis. Aku akan bercerita tentang satu sosok yang sudah memberikan separuh sifat genetiknya pada diriku. Sosok yang sudah menghilang. Kehilangan yang lebih menyakitkan dari sekedar kehilangan dia yang kukenal. Kehilangan paling menyedihkan sehingga saat kau mengalaminya lagi, ada alasan dimana kau masih bisa berdiri tegak dan tersenyum atau mungkin berkata “Ini tidak seberapa dibandingkan saat aku ditinggal mati ayahku”. Aku pantas iri hati terhadap saudara-saudaraku sendiri, karena dibandingkan mereka waktu yang kumiliki adalah paling singkat sepanjang usiaku. Aku hanya punya 15 tahun waktu bersamanya, dan pantas jika aku suatu saat akan menyesal karena telah melewatkan banyak sekali waktu berhargaku bersamanya, satu-satunya seorang sarjana hukum idolaku. Aku tidak benar-benar mengenalnya. Sosok seorang ayah…

Bismillahirahmanirahim…(3 Of)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


  • Tidak ada
  • Choi Na'an: Omo... Apa smbungan'y... Meolah pnasaran ja neh...Ppaalliwaa... Gee-ya
  • syhae: hehe..... mampir.... spa tau ada FF diam2... xixi
  • ChoKyuQhiELF13: aku bahkan baru liat komen anda disini..hahaha

Kategori

%d blogger menyukai ini: