Chokyuqhielf13's GaemGyuZonE

Dia meninggalkanku disaat aku ingin mengenalnya lebih jauh. Aku iri. Tentu, karena hanya aku yang tidak pernah memiliki kenangan terlama bersamanya. Aku selalu merasa jauh dengannya dan aku tidak pernah berkata aku menyayanginya secara langsung. Aku tidak pernah bertanya apa kabar padanya. Apa dia sehat. Apa dia bahagia. Apa dia merindukanku atau apa yang dia inginkan dariku. Aku tidak pernah melakukan apa yang layaknya seorang putri, anak gadis umumnya lakukan untuk ayahnya. Aku belum melakukannya dengan baik. Yang aku lakukan hanyalah meminta apa yang seharusnya seorang ayah berikan untuk anak gadisnya. Hal-hal yang tidak pernah kuduga akan kusesali saat aku melihat tubuhnya yang hangat tidak lagi bergerak, matanya tidak lagi membuka, senyumnya yang khas tidak lagi menghiasi garis wajahnya yang tegas dan berwibawa, serta napasnya tidak lagi berhembus. Ya, saat kehidupan bukan lagi jadi miliknya. 15 tahun yang kulewatkan dengan sia-sia. Inilah kenapa aku iri pada saudara-saudaraku yang lain dan inilah alasan ketika orang-orang selalu berkata. Penyesalan selalu datang belakangan.

Aku merindukan gayanya yang khas saat menonton tv, membaca koran, makan, berjalan, dan semuanya. Terutama saat badan tegapnya yang tinggi dengan baju dinas kerjanya yang sangat pas dibadannya, rambutnya yang selalu tampak rapi, serta sepatu hitamnya yang selalu berusaha dibuatnya mengkilap. Suaranya yang tidak ada bagus-bagusnya saat bernyanyi, tangan hangatnya yang kasar, kentutnya yang anehnya tidak pernah membuat polusi dirumah (karena tidak bau). Dia yang tidak pernah komplain dengan segala ketidaksempurnaan yang anak-anaknya miliki, tidak pernah menuntut anak-anaknya harus jadi apa, tidak pernah menentang anak-anaknya menginginkan apa, tidak pernah bertanya dihabiskan untuk apa uang yang dia berikan saat isteri maupun anak-anaknya kembali meminta uang padanya. Dia yang selalu berusaha memenuhi keinginan keluarganya tanpa banyak protes, jarang marah, tapi selalu memegang kuat prinsipnya. Dia yang diam-diam selalu mematikan lampu kamar, mengusap lembut kepala anak-anaknya dan menyelimuti mereka saat mereka terlelap. Dia benar-benar pahlawan dengan terlalu banyak hal dalam dirinya yang tidak lagi sanggup untuk kutulis satu per satu. Begitulah ayahku. Gagal Ginjal Kronis telah menjadi alasan terakhirnya membiarkanku menangis karena hanya memiliki waktu 15 tahun hanya untuk mengenalnya dan memanggilnya Ayah. Ini jauh lebih sesak dibandingkan saat aku harus patah hati, karena cita-cita terakhirku tidak akan pernah bisa tercapai. Melihatnya menjadi wali di akad pernikahanku…

Bismillahirahmanirahim…(4 Of…)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


  • Tidak ada
  • Choi Na'an: Omo... Apa smbungan'y... Meolah pnasaran ja neh...Ppaalliwaa... Gee-ya
  • syhae: hehe..... mampir.... spa tau ada FF diam2... xixi
  • ChoKyuQhiELF13: aku bahkan baru liat komen anda disini..hahaha

Kategori

%d blogger menyukai ini: