Chokyuqhielf13's GaemGyuZonE

Archive for the ‘Story’ Category

Dia meninggalkanku disaat aku ingin mengenalnya lebih jauh. Aku iri. Tentu, karena hanya aku yang tidak pernah memiliki kenangan terlama bersamanya. Aku selalu merasa jauh dengannya dan aku tidak pernah berkata aku menyayanginya secara langsung. Aku tidak pernah bertanya apa kabar padanya. Apa dia sehat. Apa dia bahagia. Apa dia merindukanku atau apa yang dia inginkan dariku. Aku tidak pernah melakukan apa yang layaknya seorang putri, anak gadis umumnya lakukan untuk ayahnya. Aku belum melakukannya dengan baik. Yang aku lakukan hanyalah meminta apa yang seharusnya seorang ayah berikan untuk anak gadisnya. Hal-hal yang tidak pernah kuduga akan kusesali saat aku melihat tubuhnya yang hangat tidak lagi bergerak, matanya tidak lagi membuka, senyumnya yang khas tidak lagi menghiasi garis wajahnya yang tegas dan berwibawa, serta napasnya tidak lagi berhembus. Ya, saat kehidupan bukan lagi jadi miliknya. 15 tahun yang kulewatkan dengan sia-sia. Inilah kenapa aku iri pada saudara-saudaraku yang lain dan inilah alasan ketika orang-orang selalu berkata. Penyesalan selalu datang belakangan.

Aku merindukan gayanya yang khas saat menonton tv, membaca koran, makan, berjalan, dan semuanya. Terutama saat badan tegapnya yang tinggi dengan baju dinas kerjanya yang sangat pas dibadannya, rambutnya yang selalu tampak rapi, serta sepatu hitamnya yang selalu berusaha dibuatnya mengkilap. Suaranya yang tidak ada bagus-bagusnya saat bernyanyi, tangan hangatnya yang kasar, kentutnya yang anehnya tidak pernah membuat polusi dirumah (karena tidak bau). Dia yang tidak pernah komplain dengan segala ketidaksempurnaan yang anak-anaknya miliki, tidak pernah menuntut anak-anaknya harus jadi apa, tidak pernah menentang anak-anaknya menginginkan apa, tidak pernah bertanya dihabiskan untuk apa uang yang dia berikan saat isteri maupun anak-anaknya kembali meminta uang padanya. Dia yang selalu berusaha memenuhi keinginan keluarganya tanpa banyak protes, jarang marah, tapi selalu memegang kuat prinsipnya. Dia yang diam-diam selalu mematikan lampu kamar, mengusap lembut kepala anak-anaknya dan menyelimuti mereka saat mereka terlelap. Dia benar-benar pahlawan dengan terlalu banyak hal dalam dirinya yang tidak lagi sanggup untuk kutulis satu per satu. Begitulah ayahku. Gagal Ginjal Kronis telah menjadi alasan terakhirnya membiarkanku menangis karena hanya memiliki waktu 15 tahun hanya untuk mengenalnya dan memanggilnya Ayah. Ini jauh lebih sesak dibandingkan saat aku harus patah hati, karena cita-cita terakhirku tidak akan pernah bisa tercapai. Melihatnya menjadi wali di akad pernikahanku…

Bismillahirahmanirahim…(4 Of…)

Benar. Sekarang aku sedang berada dalam keadaan yang baik, teramat baik dan tidak akan terlihat sebagai seorang gadis yang mengalami kisah kehidupan yang rumit diluar. Sejujurnya, dia bukan satu-satunya alasan hidupku menjadi rumit. Banyak hal. Luka terbesarku adalah diriku sendiri. Dan sekali lagi, aku tidak yakin sebenarnya. Tapi sepertinya aku adalah seorang introvert yang meski cerewet (dimata keluarga) aku bisa menjamin secara keseluruhan yang benar-benar tahu aku luar dan dalam hanyalah Allah SWT. Lingkungan keluargaku sudah membentukku menjadi seperti ini secara halus. Mengoreskan sebuah luka yang tidak pernah kusadari (atau bahkan pernah tapi selalu kutolak) meski terasa nyeri tapi tidak sedikitpun membuat wajahku meringis dan hanya membiarkanku mencari sendiri obat untuk meredakan nyeri itu. Aku sudahlah terbiasa berkawan dengan nyeri yang meskipun orang lain coba menabur garam dilukaku maka tidak akan berpengaruh banyak. Karena walaupun perih, yang merasakannya hanyalah aku dan melihatnya hanyalah Allah, Tuhanku. Jadi, apa aku terlihat semakin melankolis?

Hanya segelintir orang yang mampu memberikanku keyakinan untuk membagi kisahku, bukan karena aku tidak mempercayai mereka tapi lebih karena sikap cuek yang kumiliki sehingga kadang aku berpikir, semakin aku bercerita semakin orang lain akan ikut menanggung beban yang seharusnya masih mampu untuk kuangkat meski aku hanya sendiri. Jika memilih, maka aku akan memilih perasaan mereka dibandingkan mereka harus melihat aku yang cuma satu orang ini menangisi dan membagi kesedihannya bersama orang lain (mereka). Benarkah jika aku benar-benar seorang pemikir sekarang?

Aku adalah seorang gadis. Kelak akan menjadi wanita. Akan menjadi seorang istri dan seorang ibu. Akulah yang mencari mahram untuk kehidupanku, tapi Allah lah yang akan menentukannya untukku. Aku, malam ini merindukan dia yang kukenal. Setelah cukup lama aku mencoba mencari teman yang lebih baik dari dia yang kukenal, tapi yang kutemukan adalah diriku yang masih sama dengan diriku yang dulu saat masih berusaha mengenal dia sekarang sedang menutup mata dari yang mungkin jauh lebih baik darinya. Dinding hatiku ini mengizinkan dia pergi tapi menolak membiarkan dia yang lain memasuki pintunya. Inilah keegosianku. Keegoisan yang menyakitkan. Aku melepasnya karena aku tidak ingin mengurungnya bersama keegoisanku. Aku membiarkannya pergi karena aku ingin melihat kedua sayapnya berkepak sempurna. Aku membiarkannya berlalu didepanku tanpa meminta sedikitpun dia berhenti dan menenangkanku dengan kata-katanya (saat itu). Ya, aku yang membiarkannya masuk dan keluar dalam kehidupanku berkali-kali. Aku mengizinkannya masuk saat dia ingin masuk dan memperbolehkannya keluar saat kurasakan sudah tidak lagi betah berlama-lama di dalamnya meski dia menolaknya. Karena itulah aku yang bodoh. Aku yang bersalah. Aku tersenyum mengingatnya, masih bisa?. Tentu, karena dia tidak benar-benar menyakiti perasaanku. Dia tidak benar-benar melukai hatiku, karena akulah yang melakukannya sendiri. Dan karena “nyeri adalah kawanku” dan bukan hal aneh karena aku terbiasa bersama nyeri. Nyeriku tidak memiliki skala.

Malam itu. Entah untuk keberapa kalinya, aku kembali mendapati diriku berdebar menerima teleponnya. Aku mengutuk diriku sendiri. Harusnya, dia yang kukenal itu tidak lagi kubiarkan masuk dalam hatiku. Tapi ternyata aku salah, dia bahkan tidak benar-benar kubiarkan pergi dari hatiku. Malam itu, kuhabiskan waktu berlama-lama untuk mengenang kebersamaanku dengannya dulu. Dia yang memulai. Tapi ini jelas kesalahanku sendiri. Pergumulan malam yang jarang sekali kutemui bahkan saat bersamanya (dulu). Terasa menyenangkan (sesaat) saat kembali mendengar suaranya walaupun jarak menjadi penghalang untukku bisa membiarkan mataku menatap tiap lekuk wajahnya yang (hampir) kulupakan saat ini. Aku tahu aku akan merasakannya lagi. Perasaan sesak itu. Tapi egosentrikku memaksaku untuk jalan terus dan berhenti saat dia bilang berhenti. Seharusnya aku mengikuti kata hatiku. Tapi pantang untukku menyesal, terutama karena kebodohan sendiri. Rasanya, seperti kau melihat kumparan air ditengah oase saat kau dahaga. Tapi saat mendekat, dia tak lebih dari sebuah fatamorgana. Beginilah dia yang kukenal sekarang. Fatamorgana paling nyata dihidupku.

Mencintai, pengharapan, dan kasih sayang. Aku merasakannya. Tapi setiap detik yang kuhabiskan untuk meluangkan waktu menyelipkan namanya disetiap doaku hanyalah detik dimana aku sanggup bertopang pada kedua kakiku untuk melihat dia bahagia. Allah yang menjadikanku kuat. Dia bahagia, dan malam itu dia membagi kebahagiaannya padaku. Artinya Allah mengabulkan doaku, dia yang kukenal tidak lagi terjerat dalam jeruji yang dulu kami bangun. Kini dia yang kukenal sudah bebas sepenuhnya. Sesak entah untuk yang keberapa kalinya kurasakan hanyalah bisa kusesap dan kuperlihatkan padanya dengan tawa riang yang dia ingin sekali melihatnya diseberang pembicaraan kami. Dia bertanya banyak hal tentang kebiasaanku yang diingatnya. Aku hanya bisa berterima kasih dalam hati sembari tersenyum padanya. Senyum yang tidak bisa dia lihat. Senyum yang sedikit menyakitkan (harus kuakui). Aku berterima kasih bukan karena pertanyaan-pertanyaannya yang begitu menghiburku malam itu, tapi lebih karena tidak pernah kusangka karena dia masih mengingat sebagian dari diriku. Dia masih mengingat kebiasaanku. Dan dia yang kukenal masih merasa nyaman berbicara denganku. Aku melambung. Iya, hatiku seakan memiliki sepasang sayap untuk terbang setinggi mungkin. Tapi saat kuingat kenyataan yang harus kuterima, adalah dia menganggapku tidak lebih sebagai seorang saudara yang baik dan sekarang aku memutuskan untuk tidak terbang sebelum aku jatuh. Ya. Karena dia telah menemukan apa yang selalu kudoakan dalam setiap munajatku, dalam setiap sujudku. Dia menemukan kembali hatinya. Hati yang baru dan sejak malam itu aku berjanji tidak akan sedikitpun menyentuh hatinya bersama hati yang baru dimilikinya karena akan lebih bijaksana jika aku memilih jalan mencintainya dalam diam sementara aku menunggu Allah mendekatkanku dengan orang baik lainnya selain dia.

Sesak. Sesak. Sesak. Tapi beginilah. Aku memilih merasakan sesak dan membiarkannya tersenyum padaku (meski aku tidak melihatnya malam itu). Dia yang kukenal sebagai pribadi yang baik. Dia yang dengan sopan menyanjung segala sikapku padanya. Dia yang mengenang hal terbaik dariku dimatanya. Sempat kuminta dari dia yang kukenal itu untuk jangan hanya melihat aku yang terbaik dari diriku tapi dia berkata “aku hanya ingin mengingat segala yang baik darimu”. Iya. Aku tahu dan hanya membiarkannya. Entah hal apa yang sedang direncanakan Allah untukku. Tapi hingga detik ini, aku dengan jujur mengatakan hatiku tidak benar-benar bisa melepasnya (sekarang). Dan sebenarnya aku masih menyimpan sedikit harapan kalau aku bisa menjadi salah satu alasan dia untuk bahagia. Ya, meski itu terdengar seperti lelucon. Menjadi bagian dari alasan atas kebahagian orang lain itu sungguh lebih dari cukup meski aku harus mengakhiri sebelum memulainya.

Dia yang kukenal ini memang bukan satu-satunya orang yang menjadi salah satu inspirasi tulisanku. Hal termelankolis yang pernah kutulis adalah saat kehilangan (juga). Mari melihat sisi lain dariku, melankolis itu bukan hanya karena kehidupan asmara semata. Hidupku tidak melulu tentang cinta untuk lawan jenis. Aku akan bercerita tentang satu sosok yang sudah memberikan separuh sifat genetiknya pada diriku. Sosok yang sudah menghilang. Kehilangan yang lebih menyakitkan dari sekedar kehilangan dia yang kukenal. Kehilangan paling menyedihkan sehingga saat kau mengalaminya lagi, ada alasan dimana kau masih bisa berdiri tegak dan tersenyum atau mungkin berkata “Ini tidak seberapa dibandingkan saat aku ditinggal mati ayahku”. Aku pantas iri hati terhadap saudara-saudaraku sendiri, karena dibandingkan mereka waktu yang kumiliki adalah paling singkat sepanjang usiaku. Aku hanya punya 15 tahun waktu bersamanya, dan pantas jika aku suatu saat akan menyesal karena telah melewatkan banyak sekali waktu berhargaku bersamanya, satu-satunya seorang sarjana hukum idolaku. Aku tidak benar-benar mengenalnya. Sosok seorang ayah…

Bismillahirahmanirahim…(3 Of)

Menulis bukanlah hobiku. Yah kerap kali aku dituntut oleh sahabat-sahabatku agar bisa menuangkan setiap ide, imajinasi, maupun pengalaman dalam bentuk tulisan karena mungkin mereka menganggap tulisanku cukup baik walau pada dasarnya aku tidak terlihat memiliki bakat dalam bidang ini dan dengan bercanda aku selalu berkata “Lagi gak dapet ilham” padahal aku tetaplah amatir yang berusaha terlihat profesional. Belum maksimal memang, setidaknya aku sudah berusaha. Siapa yang akan menyangka kalau someday (mungkin) tulisanku akan dibukukan dan menjadi best seller dengan penjualan terbanyak setiap tahunnya?mungkin saja kan (abaikan saja bagian ini). Wow, jiwa narsistik juga salah satu hal yang aku miliki. Alamiah sebenarnya, coba saja telaah diri masing-masing. Adakah yang benar-benar lurus?

Ya, kemudian menulis bukanlah suatu hal yang aku lakukan atas dasar mencintai tapi lebih karena aku menyukainya. Setiap detail tulisan yang bisa menarik perhatianku akan kubaca dengan hikmat, itulah salah satu alasan kenapa aku lebih menyukai menemukan diriku dalam keadaan serius menekuri novel dibandingkan dengan diriku yang santai bersama komik yang jauh lebih menghibur dan merubah suasana hati yang bisa saja tidak dalam keadaan baik-baik saja. Aku lebih menyukai berimajinasi dalam kata dibandingkan harus berimajinasi bersama gambar. Dan bagiku, imajinasi ternyata yang bisa kubangun adalah saat aku membaca sebuah novel, cerpen, dan jenis-jenis narasi lainnya. Lebih menyenangkan saat melihat dirimu sendiri mengambarkan objek yang sedang kau baca dalam pikiranmu. Pikiran yang hanya bisa dilihat oleh penciptamu. Pikiran yang bisa kau sembunyikan dengan baik kala kau melihat kedepan dengan wajah dihiasi senyum terbaik yang kau punya. Pikiran misteriusmu.

Aku juga menyukai puisi, setiap kiasan penuh makna yang selalu membuatku senang untuk menjajaki tiap kata didalamnya karena aku terlahir dengan membawa sifat ingin tahu yang cukup besar dan aku adalah tipe orang yang tidak akan berhenti sebelum aku benar-benar memahami makna dibalik tiap baitnya meski hanya satu kata dan itulah kenapa aku lebih memilih puisi untuk menceritakan segalanya yang kulihat secara personal dengan audio visual pribadiku. Dunia yang hanya ada aku didalamnya, menunjukan “aku” secara tersirat kepada dunia luar. Dunia yang lebih rumit, bahkan jika kau dalam keadaan sedang memejamkan mata sekalipun. Life is our real drama.

Kupikir aku menyukai seni meski pada kenyataannya aku buta seni. Aku melakukannya hanya saat-saat aku ingin (seperti sekarang) dan mood selalu mempengaruhiku untuk itu semua. Perasaan sedih (tidak bisa kupungkiri) selalu memberiku lebih banyak inspirasi untuk melahirkan suatu tulisan dibandingkan saat aku sedang bahagia, sebuah motivasi cantik dari hal kecil yang kadang tidak kalian sadari. Banyak hal yang membuatku terinspirasi untuk menggerakan ruas-ruas jariku masuk dalam kubangan kata acak yang harus kususun layaknya puzzle yang belum menghasilkan bentuk apapun. Abstrak yang sangat indah. See, tidak selamanya perasaan sedih ataupun terluka itu tidak akan menghasilkan sesuatu. Kadang tanpa kita sadari, kita sudah belajar banyak hal dari sana. Sebuah pelajaran hidup yang tidak akan ditemui dalam teori apapun.

Malam inilah dari banyak malam yang kumiliki dan sudah lewati, ada satu kesempatan dimana hatiku sedang diliputi perasaan sesak (lagi). Lihat betapa melankolisnya bukan. Tapi aku mendapatkan kenikmatan tersendiri, setiap hal yang kutulis mampu menjadi obat untuk hatiku. Jika ada yang berkata racun harus dilawan dengan racun. Mungkin aku sedang mengalaminya. Inilah caraku sembuh dari penyakit yang aku sendirilah yang membuatnya. Mampu menjadi senyum untuk hari-hariku. Karena saat ini sudah berlalu sangat lama, kau akan menyadari seberapa dewasanya kau saat itu. Ini akan menjadi menyenangkan saat kalian membacanya beberapa tahun kedepan. Serius. Kau akan melihat sisi lain dari dirimu, dan bisa terlihat kau memiliki bakat untuk menghibur orang lain (terutama untuk dirimu sendiri). Itu jika kalian bukan benar-benar seorang pelawak.

Sesak yang malam ini kurasakan adalah karena seseorang yang kukenal dan mengorbankan dirinya sendiri menjadi salah satu dari cerita kehidupanku yang baru 20 tahun berjalan dan itu bahkan belum mencapai seperempat abad. Dan mungkin karena itulah orang itu (dia yang kukenal) mengatakan aku seorang yang melankolis. Orang yang kukenal, tidak cukup baik memang tapi kurasa aku cukup yakin untuk mengatakan dia adalah orang yang baik. Seorang bernama dia yang kini (saat tulisan ini kubuat) mampu membuatku tersenyum meski dia tidaklah pernah memiliki kesempatan untuk tahu lebih banyak tentangku, begitu pula sebaliknya denganku. Dia yang dari masa lalu.

Jadi, prolog yang kutulis sepanjang ini hanya untuk memparodikan seorang ‘dia’ yang kukenal? Entahlah, tapi karena dialah alasan kenapa hatiku begitu sesak dan dia adalah salah satu alasan bagiku bisa menghasilkan tulisan ini sekarang. Merupakan keuntungan bagiku meskipun kerugiannya tentu hanya aku yang merasakan. Melegakan karena akhirnya, aku bisa menemukan diriku meluangkan waktu untuk bisa membuat sedikit narasi tentangnya sehingga suatu saat jika aku melupakan orang ini aku masih bisa mengingat sedikit tentangnya melalui tulisan yang kubuat. Dia memang bukanlah satu-satunya orang spesial dalam kehidupanku. Tapi hidupku sempat spesial karena kehadirannya. Kembali lagi kurasakan perasaan ini. Sesak disaat bersamaan. Yang sedang membaca ini mungkin berpikir aku terlalu berlebihan sekarang. Tapi, bukanlah tujuanku untuk mengumbar apa yang tidak seharusnya kuumbar meski ini adalah kawasan aman yang kupunya sekarang. Yang ingin kulakukan sekarang adalah melepaskan satu per satu segala yang kuingat tentang orang ini dengan cara paling sopan dan bermartabat yang pernah ada dan sekarang sedang berusaha kulakukan. Sehingga saat aku mengenangnya, yang kuingat bukan lagi perasaan sesak karena aku tidak lagi memiliki hak mendapatkannya kembali untuk masuk dalam hidupku namun adalah betapa aku masih memiliki sedikit kemampuan untuk mengemasnya menjadi sesuatu yang menyenangkan untuk kuingat. Dan inilah caraku menghargai sebuah kebahagiaan. Koping yang tidak biasa.

Bismillahirahmanirahim…(2 Of…)

13 November 2012, 22.08 WIB

Bismillahirahmanirahim…
Catatan tentang sebuah kepribadian…
Sedikit goresan abstrak pada selembar garis pembatas kehidupan, kertas yang tadinya tidak bercela menghitam kemudian, pekat melekat…
Membentuk simpul yang akan sulit untuk dilepaskan…
Rumit mengamit lengan-lengan perkasa yang melenguh mengaungkan nyeri dipojok hari, mimiknya berubah sendu…
Beginilah, ketika semua menjadi remasan kasar puing-puing fatamorgana…
Saat itu, hanya ufuk yang berani menatapku!

13 November 2012, 22.10 WIB

Aku ingin sedikit berbagi kepada kalian, orang-orang yang berada didekatku tapi tidak cukup baik untuk mengenalku. Hari ini aku masih sama melankolisnya (mungkin). Mengingat ada satu hal yang sedikit mengganjal di dasar terdalam yang hanya aku dan Tuhan yang mampu menyelaminya, sebuah perasaan. Malam. Ini akan menjadi salah satu malam yang akan kuingat sepanjang hidupku. Mungkin karena malam adalah waktu dimana orang-orang sudah terlelap dan bergelut dengan dunia mimpinya, aku justru terbiasa bangun dan merenungi apa yang sudah terjadi padaku entah itu hari ini atau hari-hari sebelumnya. Mungkin sedikit aneh bagi sebagian orang. Merenungi apa yang terjadi, tapi begitulah caraku untuk bisa menilai diriku sendiri. Seberapa besar koping yang kumiliki untuk mengatasi stressor (yang tentunya bukan hanya aku yang memilikinya), orang-orang juga punya meski itu dalam kadar yang berbeda pada setiap orang. Malam inilah, saat cuaca tidak sehangat yang kuharapkan tapi tak jua sedingin yang kukira.

Mari sedikit mengenal satu sama lain. Kupikir, aku tidak akan berbagi pengalaman yang menyenangkan dalam hidupku tapi lebih kepada sebuah pengalaman yang secara keseluruhan tidak bisa kubagi dalam porsi penuh. Aku hanyalah seorang berumur 20 tahun terhitung sejak bulan april 1992 silam, dan ini sudah bulan ke-7 sejak april ke-20 tahunku berlalu. Itu artinya, beberapa tahun ke depan aku harus bisa sukses bersama resolusi-resolusi yang kubuat. Tentu saja, rencana adalah hak manusia. Namun, hasil adalah mutlak hak Tuhan. Sehingga aku hanya bisa berencana dan keputusan akhir hanya Tuhan Yang Mengetahuinya. Aku memiliki banyak rencana yang tidak semuanya berjalan sesuai apa yang kuharapkan. Tentu saja, karena sudah kodratnya begitu. Sekali lagi, hasil akhir mutlak milik Tuhan! Tapi luar biasanya, Allah menggantikan semua kegagalan itu dengan banyak hal yang lebih baik dari apapun bahkan dari apa yang kuminta. Dan alhamdulillah, aku sangat mensyukurinya. Inilah nikmat ketika kalian tidak pernah berhenti bersyukur, meski keadaan tidak pernah sesuai dengan keinginan yang kalian buat. Percayalah. Diujung sana entah dimanapun itu, jalan Tuhan tidak pernah bisa ditebak dan selalu akan indah pada waktunya.

November rain. Adalah saat aku memilih objek diam ini untuk bercerita, bukan karena aku sudah kehabisan stok manusia yang bisa kupercaya di bumi ini. Tapi karena saking pemikirnya, aku selalu beranggapan mereka semua (orang-orang terdekatku) pasti akan mudah jenuh mendengar kisah hidupku yang mungkin akan terdengar tidak menarik. Salah satu kelemahanku didepan Tuhan, terlalu memikirkan hal yang belum tentu benar. Entah itu yang namanya spekulasi atau kemungkinan paling menakutkan jika ternyata ini adalah buruk sangka (yang dalam kepercayaan yang kuanut dikenal dengan suudzon). Aku benar-benar merasa nista. Inilah pergumulan batin yang paling tidak kusukai, membuatku selalu gagal bersikap jujur pada orang-orang terdekatku yang benar-benar baik tapi bukan berarti aku adalah seorang pembohong. Hanya saja, aku tidak mudah untuk berbagi. Sedikit merugikan diri sendiri sebenarnya, karena jelas akan terus dibayangi perasaan-perasaan yang kalau kuanalogikan ini seperti sebuah pipa yang mengalirkan air ke sebuah saluran air tapi tiba-tiba tersumbat sehingga aliran air yang keluar hanya sedikit. Semacam itulah. Terasa sesak, namun karena egoisme berlebihan dan tingkat ke-paranoidan mendominasi kau hanya bisa merasakannya sendiri. Bahkan oksigen yang mengaliri tiap pembuluh darah hingga ke paru-paru pun selalu terasa tidak mencukupi untuk membuat otakmu berpikir hal-hal yang lebih jernih.

Ya, memikirkan dengan detail setiap kata yang akan keluar dari mulutku sudah menjadi semacam kebiasaanku sejak dulu walau tidak kupungkiri mulutku sendiri juga bisa bergerak tanpa rem dalam satu kondisi tertentu yang menuntutku untuk berbicara hal-hal yang tidak sinkron dengan apa yang otakku pikirkan. Sehingga akhirnya, objek tak bergerak inilah jadi pelampiasanku. Menulis yang tidak pernah kumulai dan kuakhiri dengan semestinya. Objek yang secara tidak langsung telah membantuku jujur dengan cara terbaik yang pernah kulakukan. Akhirnya, berusaha mencari pembenaran tetap saja menjadi salah satu kodratku sebagai manusia. Oh ayolah, kita semua tidak pernah berpikir kalau kita sempurna kan?

Bismillahirahmanirahim….

Okeh, jadi kita jalan yah beberapa bulan lah. Tapi karena saat itu gw masih mungkin childish kali ya, dan dia juga gak jauh beda sama gw jadinya kita break. Dan jelang lulus SMA, kita balikan lagi dan itu bertahan cuma sekitar setahun deh. Kisah gw gak berakhir di januari kayak lagunya glenn fredly sih, cuma berakhirnya sebelum valentine. Dan lagi-lagi break karena long distance relationship yang bener-bener gak bisa gw handle. LDR itu gak mudah sodara-sodara. Gw sibuk, dia sibuk dan kita sering berantem gara-gara hal gak jelas dan komunikasi kita berdua bener-bener buruk. Tapi kita berdua milih jalan terbaik kok, pada gak berantem pas putus dan milih tetap menjaga silaturahim. But, i will never try to know what bout’ him lagi setelah itu. Gw sibuk dan terlalu sibuk cuma buat mikirin yang namanya cowok meskipun beberapa orang yang gw kenal cukup lama lah mulai merapat. Yang namanya hati gak bisa dipaksa ya, sesibuk-sibuknya gw, ujung-ujungnya tetep aja kaum adam yang satu itu tetap ada space lah di hati gw jadi yang lain gak gw perhatiin. Kalo lo belah hati gw, lo gak bakalan lihat apa-apa kecuali gw perdarahan ujung-ujungnya syok hipovolemik deh *Ok abaikan hal gak jelas ini*

Gw selalu berdoa sama Allah, agar gw bisa ikhlas. Gw bisa keep stay at my way jelas gw tau dalam islam gak ada tuh yang namanya pacaran makanya dalam salah satu doa gw, gw minta sama Allah agar hati gw tetep terjaga, pandangan gw tetep terjaga, dan kasih sayang gw bisa sepenuhnya gw curahkan cuma sama Allah, dan gw bisa ketemu jodoh yang baik dimata Allah tanpa harus gw melakukan yang namanya pacaran karena gw mau berubah, gw mau jadi anak sholehah yang bisa membawa orang tua gw ke surga. InsyaAllah, Amin. Gw juga minta agar gw bisa strong dan gw bisa keep smile when i see his face in front of me singkat cerita, gw mencintai dalam diam. Yah, kayak putri Rasulullah SAW, Siti Fatimah Az Zahra gitu. Tapi nyatanya gw cuma bisa ngelakuin beberapa hal sejauh ini. Allah selalu mendengar doa gw. Satu yang masih belum bisa gw lakuin yaitu bener-bener ngelupain dia. Sometimes gw lupa, but sometimes setan sialan yang selalu berusaha mengoyahkan iman gw ini berhasil menggoda gw dengan bisikan-bisikannya yang lebay banget kalo lo semua pada bisa ngedengernya *ini gw deh kayaknya yg lebay banget*.

Gw inget lagi, inget lagi, why gitu? padahal kalo dipikir-pikir nih ya, kok repot amat gw ngurus hal begituan kayak gw bakalan mati aja kalo gak inget sama dia. Lets it flow aja sebenernya maunya gw, tapi Allah masih belum sepenuhnya membalik hati gw, so gw cuma menunggu, ditengah usaha dan doa yang udah gw lakuin. Karena gw selalu yakin, Allah punya banyak cara yang gak pernah kita duga sebelumnya. Dan alhamdulillah, gw lebih bahagia dengan hidup kayak gini. Gw jadi lebih mengerti, hidup tuh bukan cuma sekedar bernapas. Tapi banyak hal yang bisa kita lakukan untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi, lebih bijak, dan diridhoi Allah disetiap jalan yang kita ambil. Kita tuh hidup karena Allah dan hanya untuk Allah. Toh saat lo mati, apa lo bakalan ngebawa cinta lo?kekayaan lo?gak kan? Kita cuma bawa kain kafan kok. So, hidup kita jangan dihabiskan untuk duniawi aja, ingat sama yang memberi hidup guys. Itu yang mo gw tekanin disini.

Gw ngasih tau ini semua bukan gara-gara gw mencari simpati publik ya, BIG NO! Siapa gw? Gw bukan public figure kok, udah gw bilang gw cuma manusia biasa, rakyat jelata yang numpang bernapas di bumi milik Allah ini. Tapi intinya gini, gw cuma mo ngasih sedikit motivasi kok gimana gw bisa menikmati setiap hari gw dengan penuh rasa syukur yang masya Allah banyak banget hikmahnya kalo lo semua bisa bersyukur atas apa yang terjadi dalam hidup lo. Apa yang udah terjadi di hidup kita mau itu seneng, sedih dan sebagainya jangan pernah lupa satu hal! karena gw muslim, gw dengan penuh rasa cinta bilang, jangan lupa satu hal. Allah. Tuhan. *gw gak ceramah kok, gw kan bukan ustadzah*

Apapun kepercayaan kalian, keyakinan kalian, jangan pernah lupakan Tuhan kalian. Jangan sekalipun. Dan jangan pernah lupa untuk bersyukur, apapun keadaan kalian. Syukuri, karena gw secara islam mengatakan Allah gak pernah tidur, Allah selalu mendengar doa kita dan Allah suka sama umatnya yang bersyukur. Jadi La tahzan, Ungkapkan semua sama Allah dan kata ustadz Yusuf Mansur, dia pernah bilang dtwitter yang gw sharing disini dengan gaya bahasa gw *suka-suka gw gitu* #plakk. Jadi gini, kalo galau gak usah repot, ingat Allah. Lo minta, ngemis aja sama Allah gak usah malu. Kalo dipikir-pikir masuk akal banget, buat apa malu?sementara saat lo ngelakuin hal yang menurut Allah tidak terpuji aja lo gak malu, kenapa di depan Allah harus malu?Jujur aja deh, kita semua nih manusia yang juga pasti ada “cacat” nya kan. Gw juga gitu. Lo nangis aja di depan Allah, lo maruk sama Allah boleh-boleh aja, sah. Allah pasti dengerin. Minta sama Allah, gak usah jaim, gak usah naif Allah pasti denger. Karena rahasia lo pasti terjamin kalo lo curhatnya sama Allah. Pasti!

Dan itu semua tuh bener. Allah maha kaya. Tanpa lo minta pun sebenernya, Allah tau apa isi hati lo. Allah pasti ngabulin doa lo kok. Tapi itulah, lo harus berusaha sekuat tenaga lo agar Allah dengan cepat mengabulkan apa yang lo harepin makanya Allah memerintahkan kita untuk berdoa padaNya. Apa yang umatnya minta. Berdoa, Bersujud, Bersyukur, Percaya sama Allah daripada lo minta sama setan, sama kuburan, sama pohon, boro-boro bahagia yang ada malapetaka kan. Itu yang selalu gw tanamin di mindset gw. Apa sih yang Allah gak bisa coba?gak ada kan?Itu yang selalu bikin gw move on saat gw jatuh. Gw keluarin semua di depan Allah. Karena cuma Allah yang bisa menjaga rahasia gw, dan mengabulkan apa yang gw doakan meskipun gak pernah ada yang tau kapan dan bagaimana Allah akan memberi nikmat pada umatNya.

Ternyata gini ya gaya gw nulis? *setelah gw baca, gak niat ngedit lagi*. Sudah gw bilang gw bukan penulis. Tapi gw seneng, setidaknya yah, beban gw berkurang sedikit lewat tulisan. Alhamdulillah banget, kalo ada yang punya cerita yang menggalau pilu dan tiba-tiba tersesat dan tak tau arah jalan pulang #eh ke wp gw ini karena Allah menunjukkannya, so gw saranin jadiin Allah satu-satunya tempat lo curhat segalanya. Apapun!Daripada lo salurin ke hal negatif kan?Boleh lah curhat sama orang terdeket lo, tapi sama Allah rahasia kita lebih terjamin lho dan kalo lo lagi dirundung kesedihan, gw pernah baca di salah satu buku yang bagus banget judulnya “Menjadi Wanita Paling Bahagia” ucapkan La illa ha ilallah maka kesedihan kita akan diangkat oleh Allah. Ciyussss deh, itu semua tuh bener.

Udah deh ya, daripada lo semua bosan dan nguap ngebaca ini semua trus muntah-muntah sambil koprol karena tulisan berantakan gw *gak yakin juga sih gw, kalo ada yg baca* mending banyak-banyakin beribadah dan deket sama Allah. Semoga bermanfaat aja, Allah ngasih kesempatan buat gw nyeritaiin ini semua sedikit banyak kan juga sebagai motivasi bagi orang lain. Alhamdulillah. Semoga berkah…Barakalah 🙂

Ok gw skip, habis pulang dari malang dan sekalian jemput kakak gw beliau makin drop. Beliau harus opname beberapa hari di RS dan harus dialisis dan pemeriksaan lebih lanjut dan sialnya itu semua harus dirujuk karena infrastruktur RS khususnya buat pasien ginjal itu gak ada di RS tempat gw tinggal. Dilema juga sih sebenernya, karena beliau awalnya nolak tapi saking dropnya beliau udah gak bisa nolak lagi dan masrahin semuanya. Pas dialisis beliau bilang gak enak, dan maunya pulang dan kali ini harus karena beliau pake acara marah sama mama dan om gw *kakak dari bokap*. Karena jalan Allah juga, mereka nurutin maunya beliau. Gw masih inget banget, sabtu sore gw pulang les matematika dari rumah temen trus gw liat abah gw dah nyampe rumah, beliau pulang dari RS di luar kota. Ya Allah, wajahnya tuh tenang banget meskipun gw yakin pasti sakit banget rasanya. Dia cuma bisa baring, diam, senyum dan sialnya gw yang saat itu masih ingusan sudah mikir macam-macam, negatif thinking gak jelas dan bukannya PD atay gimana tapi feeling gw tuh kuat, haha gw memang freak, bukannya gw motivasi abah gw buat sembuh gw malah mikir macam-macam dalam hati. Gw anak yang berdosa. Ampuni hamba Ya Allah.

Tapi coba lo diposisi gw, lo liat dengan mata kepala sendiri bokap lu cuma baringan, sementara sakitnya tuh sudah terminal dengan harapan sembuh yang kecil banget. Pasti lo mikir gak jauh-jauh dari yang namanya kematian. Gw tau gw jahat, tapi gw terlanjur mengatur mindset gw sedemikian rupa kalo gw harus siap kapanpun bokap gw bakalan pergi. Dan lo tau?saat gw liat wajahnya yang berkharisma itu dengan tenangnya tidur, yang gw pikirin saat itu adalah “waktunya udah dekat nih”. Feeling gw kuat. Feeling gw berkata gw bakalan nangis. Feeling gw jahat. Dan gw kadang benci kenapa gw harus punya feeling yang kuat dan semua jarang meleset. Malamnya gw tidur kan, trus Allah bangunin gw lewat isakan mama gw di tengah rumah. Deg. Demi Allah gw kaget sekaget-kagetnya, karena gw kira bokap gw udah passed away. Ternyata gak, beliau cuma baringan trus ngomong juga lemah banget. Beda sama yang gw liat waktu beliau datang. Beliau minta sama mama buat dibikinin makanan kesukaan beliau. Trus mama dengan tegarnya bikinin, padahal gw yakin dalam hati mama tuh pasti lebih sedih dari gw. Habis itu beliau minta mo sikat gigi. Gimana gw gak ikutan nangis coba, beliau gak ngomong banyak lagi setelah itu. Trus tidur aja, dan kalo lo pada liat nih udah deh lo pada juga bakalan hopeless. Tengah malam mama nyuruh gw nelpon kakak cewe gw yang stay diluar kota sama keluarganya. Ya iyalah, dia nangis heboh. Tengah malam gitu pikir aja mana ada travel yang nyewain mobil dan keluarga gw juga bukan orang kaya yang punya banyak mobil tapi gak masalah buat gw karena semua sudah lebih dari cukup apa yang sudah Allah kasih sama keluarga gw. Ditengah kepanikan kakak gw yang berusaha pulang buat ketemu bokap, dia nangis sampe dia bilang kalo memang udah waktunya dia ikhlas kok, gak usah nunggu dia datang. Yah, apalah yang bisa gw lakuin. Cuma bisa nangis, dan kita rame-rame sekeluarga baca yasin didepan beliau yang udah drop banget. Gak ada adegan beliau dibawa ke rumah sakit lagi, karena nenek gw *tantenya bokap* bilang waktunya udah deket padahal kalo dipikir siapa kita gitu berani ngejudge kayak gitu, padahal ada yang jauh lebih berkuasa diatas kami yaitu Allah, dan itu terdengar aneh sih menurut gw karena bener-bener diluar nalar gw tapi semua terjadi secara alami, mungkin karena pengalaman orang tua jauh lebih banyak melihat kematian kali ya makanya semua sepakat bokap gak usah dibawa ke RS lagi. Kasarnya sih gini, biar dibawa ke RS juga gak bakalan sembuh dan bokap juga maunya di rumah. Akhirnya diambil lah jalan tengah, beliau dirawat dirumah sesuai harapan gw sama kakak-kakak gw yang masih berusaha berpikir positif dan mencoba menggantung harapan kalo beliau masih bisa bertahan, dipasang infus sama oksigen dirumah aja sementara para tetua dikeluarga udah hopeless dan yakin udah ngeliat tanda-tanda kematian di depan mata dan mereka meyakinkan kami untuk lebih banyak mendoakan bokap.

Ya udah, besok paginya sekitar jam 6 kakak gw sama suami dan anaknya datang. Dan guys, beliau seneng banget apalagi liat cucu kesayangannya. Gw nangis, gw langsung meluk bokap trus minta maaf sama beliau. Gw gak tau, tapi mungkin juga gw udah hopeless banget dan takut brrharap lebih. Gw cuma bisa nangis. Kita semua nangis, beliau cuma senyum aja. Siangnya dengan suara super duper lemah beliau minta diputerin lagu favorit beliau yang gw juga baru tau hari itu, Ungu-Andai kutahu. Bokap gw nyanyi, Ya Allah demi apa gw nangis dengernya walaupun suaranya gak jelas tapi beliau nyanyi dan minta tuh lagu tetep diputerin sementara beliau mau tidur. Malamnya, beliau ngaji, istigfar, gw denger kok. Sampe detik terakhir gw sama keluarga nyaksiin gimana prosesnya. Subhanallah, Allah bener-bener maha kaya, maha sempurna. Subhanallah, gw gak bisa ngomong apa-apa saat itu. Senin pagi buta, sekitar jam 2 Allah akhirnya ngambil beliau. Gw udah gak bisa nangis, air mata gw juga kalo orang bilang udah kering gitu padahal rasa-rasanya airmata mana pernah kering yang ada ntar mata gak bisa muter-muter lagi #apasihini. Gw cuma bisa senyum sambil megangin tangan beliau dan ngeliat beliau tenang banget karena jelas beliau gak mungkin bisa bangun lagi. Yah, jasad beliau bener-bener terbujur kaku di tengah rumah.

Dan lo tau apa yang selalu dikasih tau sama mama? “Jangan pernah nangis, kasian abah”. Ajaibnya gw sama 3 kakak gw *gw bungsu* pada gak nangis meski kita semua sedih luar biasa. Gw ngeliat sendiri gimana abah gw saat napas beliau tinggal satu-satu. Gw ingat banget kejadiaannya gimana, dan gak bakalan gw lupain sampe kapanpun apalagi semua kenangan gw selama 15 tahun bersama beliau. Gw ingat, hari itu hari senin dan gw izin dari sekolah. Temen-teman sama guru-guru gw pada ke rumah buat ngucapin belasungkawa. Dan yang bikin gw gak percaya saat itu, temen gw namanya dila malah nangis sesegukan padahal gw aja gak nangis. Dia pasti ingat ayahnya dirumah deh. Sorenya, satu temen deket gw, orang spesial bagi gw datang ke rumah *curcol nih yee*. Gw bersyukur banget sama Allah, seenggaknya kesedihan gw berkurang berkat dia. Makanya gw bilang terima kasih di awal, salah satunya buat dia..:)

Udah 5 tahun berlalu sejak bokap meninggal dan gw masih ngerasa beliau masih ada di deket gw. Sekarang gw udah mencapai mimpi terakhir beliau buat gw, yaitu masuk dunia kesehatan, keperawatan. Gw udah lulus, walau masih D3 dan mimpi gw harus gw wujudin buat mencapai studi sampai jadi spesialis dan juga insya allah gw pengen banget mendalami dunia herbal. Dulunya beliau mau gw kuliah di malang, tapi gw gak bisa menuhin harapan beliau yang satu itu karena mama gw sendiri. Masa iya gw tega ninggalin beliau dan hijrah di kota lain sementara anak-anak beliau yang lain pada jauh semua. Gw milih jalan tengah, masuk akademi keperawatan di tempat gw aja, dan rencananya gw mo lanjutin studi setelah gw dapet kerjaan. Semoga Allah meridhoi harapan dan mimpi-mimpi gw ya. Amin.

Gw juga nulis ini, buat sedikit curhat tentang someone spesial sih, curcol dikit gitu. Temen deket gw yang sekarang entah dimana dia berada, gw ngasih dia gelar “U Know Who” yang jelas masih dibelahan bumi yang sama ma gw dan dia jelas bukan Cho Kyuhyun si evil magnaenya Super Junior yang bisa bikin gw jejeritan gaje di tengah keheningan malam #lebay dengan suaranya yang super duper soft kayak pantat keponakan gw yang baru lahir #Koprol. *buang aja gw kelaut habis ini* LOL.
Namja ini nih baik banget, thanks god sudah pernah mempertemukan hamba dengan teman sebaik dia. Sebenernya kita berdua pernah ada affair sih tapi kita berdua belagak kaya artis aja gitu sok-sokan ngelak kalo kita sebenernya ada something special, jadi yang tau cuma sahabat-sahabat aja, padahal muka gw juga gak kaya Seohyun SNSD dan dia juga gak sekece Siwon. Gw mah rakyat jelata, syukur-syukur kalo ada yang bilang gw cantik, dan semoga tuh mata mereka yang beriman dan beramal sholeh pada gak katarakan. Semoga yang suka-suka muji gw dapet balasan surga ya dari Allah. Amin. Asal lo pada gak boong aja sih, jadi maksudnya buat nyeneng-nyenengin gw gitu makanya pada asal omong bilang gw cantik lah, manis lah. Hohoho tapi totally, gw syukurin semua pemberian Allah…

Yah dan kali ini wp gw beruntung gw ngiklanin tulisan gw yang alakadarnya ini dengan sedikit kisah gw yang gw harap bisa ngasih motivasi buat siapa aja yang baca. Gw cuma bisa nangis didepan Allah, Tuhan gw. Satu-satunya yang meski gak bilang pasti Dia ngerti gw jauh lebih baik dari siapapun termasuk orang tua gw ato kakak-kakak gw yang jelas sayang banget sama gw #PD. Ibu gw yang berhati lembut pun, yang begitu mulia pun jarang gw ajak curhat. Karena gw gak mo nangis didepan beliau. Bukan karena takut ditodong pertanyaan yang beranak pinak atau tiba-tiba kita jadi nangis jamaah. Big No, bukan itu yang bikin gw gak pernah ngungkapin isi hati gw yang sebenar-benarnya.

Tapi Allah, Sholat dan Doa itu udah lebih dari cukup bikin setiap kesedihan gw berkurang. Bikin gw lega, bikin gw selalu berpandangan optimis, positif thinking dan tentunya bikin gw ngerasa kalo Allah selalu ada buat gw meski kadang sebagai manusia biasa gw akuin sejujur-jujurnya, seterang benderangnya bintang dilangit kalo gw gak sempurna, dan gw bahkan kadang jahat banget sama Tuhan gw sendiri. Gw ngerasa berkhianat banget sama Allah tiap kali gw lalai.

Astagfirullohaladzim, maaf banget ya Allah. Gw akuin, gw suka teledor. Kadang suka telat banget sholatnya, kadang dalam sehari gw ngelewatin satu ato dua kali waktu sholat gw. Gw akuin, gw malu. Demi Allah gw malu, gak cuma sama Allah tapi sama gw sendiri. Kadang gw mikir, bisa-bisanya gw gitu padahal Allah dengan Maha Pemurahnya selalu denger curhat gw, selalu ada buat gw, selalu nunjukin ke gw mana yang benar mana yg salah. Gw harus kemana, gw harus milih apa. Semua. Dan gw super malu sama Allah tiap kali sholat gw bolong. Enak-enaknya gw nangis saat gw sedih, tertawa saat gw senang dan tiba-tiba pyarrrr gw lupa sama Allah, Tuhan yang paling sayang sama gw dibandingkan siapapun. Itu yang selalu bikin gw mikir berkali lipat saat gw mulai dimakan yang namanya globalisasi *ngopi kata-kata guru fisika gw nih*.

Tapi itulah, gw manusia yang secara fisik gw sempurna dan alhamdulillah banget, tapi secara lahiriah gw masih punya kekurangan, gw masih punya sisi gelap, gw masih punya hawa nafsu yang kadang susah gw kendaliin, dan yang jelas gw masih hidup bersebelahan bareng setan, bareng iblis, yang kerjaannya suka banget ngegoda manusia yang memang dari jaman nabi Adam itu pekerjaan gak pernah bisa pensiun dari mereka dan gw kadang khilaf, gw juga bisa goyah, gw juga bisa terombang-ambing gara-gara godaan mereka. Karena gw manusia. Itu sisi tergelap gw sepanjang gw hidup. Gw mudah goyah, dan gw mudah balik. Dan itu yang membuat gw luar biasa malu sama Allah.

Gw pernah kehilangan. Gw kehilangan guys, mungkin bukan kabar heboh juga kali. Gw aja sengaja mo bikin heboh sambil koprol #kAyang. Gw cuma punya waktu 15 tahun buat ngerasain hidup bareng bokap gw. Abah lebih tepatnya, karena kayaknya terlalu elit banget kalo tiba-tiba gw manggil dia dengan panggilan selain Abah LOL. Abah gw meninggal pas umur gw 15 tahun dan coba deh lo semua pada bayangin. Di umur segitu, gw si anak ingusan 2 SMA harus ngeliat abah gw meninggal dunia dengan mata kepala sendiri. Kejadiannya taun 2007, abah gw memang sakit dan gw rada sensitif kalo inget tuh penyakit, pengen gw bejek-bejek aja *Hyattt*. Gagal Ginjal Akut, yeah ginjal abah gw rusak dua-duanya, dan itu gak bisa diselamatin lagi, mungkin bisa bertahan dan itu pun harus dialisis rutin. Beliau baru dialisis beberapa bulan setelah di vonis GGA, entah karena beliau ngalamin fase denial atau sudah jatoh pasrah gw juga gak tau, karena gw juga terlalu shock buat nanyain tentang sakitnya beliau saat itu.

Yang gw pikirin, gw cuma mau beliau sembuh, beliau kerja lagi, pake pakaian dinas lagi, karena gw paling seneng liat beliau tampil rapi pake pakaian dinas trus sepatu yang hitam mengkilap, abah gw paling suka sepatunya bersih dan beliau paling rajin buat nyemir sepatunya. Gw gak tega kalo inget abah harus dialisis. Itu sakit, dan beliau cuma mampu dialisis satu kali untuk pertama dan terakhir kalinya dan itu juga dilakuin setelah beliau balik dari malang, jenguk kakak perempuan gw yang dulu kuliah disana *sekarang alhamdulillah sudah lulus*, beliau kekeuh banget mau ke malang karena entah gimana yg baru gw sadarin setelah beliau meninggal dunia kalo Allah sudah ngatur semua dengan sangat rapi. Subhanallah, waktu itu gw inget banget kakak gw kehilangan Hp sama dompetnya yang isinya saat itu memang gak banyak, tapi yang paling penting ATMnya juga disitu, KTP, SIM dan semuanya deh. Jadi, beliau bilang harus ke malang gak mau tau gimana caranya, beliau sama mama harus ke malang dan itu gak bisa ditawar lagi karena abah gw kalo urusan prinsip gak bisa ditentang, kalo A ya A. Dan it must be do it. Dan guys, sebenernya sebelum berangkat beliau juga ngajak gw beliau bilang kalo sebelum ke malang kita bakalan ke banjarmasin dulu, ke nagara, tanah kelahiran beliau. Tapi sahabat beliau sama mama ngotot ngelarang beliau karena alasan kesehatan beliau yang lama kelamaan kayaknya makin drop, jadi kali ini beliau nurut aja tapi yang ke malang tetep jadi berangkat dan itu tanpa gw. Gw ingat banget apa yang beliau bilang sama gw sebelum berangkat, beliau minta anterin gw ke pelabuhan dan beliau maunya dianterin pake motor dan itu harus gw yang boncengin, Ya Allah kalo inget itu gw suka sedih. Itu pertama dan terakhir gw boncengin beliau. Tapi Alhamdulillah, karena karena kesempatan itu sudah diberikan Allah buat gw…



  • Tidak ada
  • Choi Na'an: Omo... Apa smbungan'y... Meolah pnasaran ja neh...Ppaalliwaa... Gee-ya
  • syhae: hehe..... mampir.... spa tau ada FF diam2... xixi
  • ChoKyuQhiELF13: aku bahkan baru liat komen anda disini..hahaha

Kategori