Chokyuqhielf13's GaemGyuZonE

Archive for the ‘Uncategorized’ Category

18 Desember 2012, 09.21 WIB

Menjelang pengambilan sumpah profesi dan pelantikan sebagai perawat profesional pemula besok (19 Desember 2012), aku kembali menyadari telah melalui jalan yang tidak mudah hingga aku bisa mencapai ujungnya dengan selamat, sehat wal alfiat. 3 tahun yang tidak pernah kuduga tanpa bisa kutolak dengan keras berakhir di hari esok. Miris jika diingat, asa yang kubangun dengan menggebu-gebu sejak putih abu-abu masih melekat di tubuhku berakhir dengan perubahan rencana dari apa yang kususun sedemikian rupa maksimalnya dulu. Totalitas yang belum Allah izinkan untuk bisa kuraih.

Tahun pertama kulewati tanpa keikhlasan. Menderai tawa palsu itu seakan jadi keahlianku. Begitulah, salah satu keahlian terhebatku. Aku iri, aku selalu mengungkit-ungkit apa yang terjadi dan kadang aku bertanya dengan sombongnya padaNya. “Kenapa harus aku Ya Allah?”. Itulah, aku seorang yang picik saat itu…

Susah memang, sampai sekarang pun bukan kuasaku untuk menilai sebuah keikhlasan dalam hidupku sendiri. Tapi nyatanya, pada akhirnya sekarang aku menjadi lebih mengerti jalan yang dipilihkan oleh Allah untuk kujalani. Kenapa aku harus menjadi seperti sekarang dan untuk apa seluruh hidupku ini akan kuhabiskan. Karena pupusnya harapanku dimasa lalu telah membuatku merasakan nikmat bersyukur meski tidak ada sedikitpun (kembali) kurancang rencana-rencana baru dengan menggebu-gebu.

Biarlah apa yang kubangun sekarang berjalan sebagaimana mestinya, perlahan dan tidak menuntut. Biarkan ikhlas tidak diucapkan dengan lisan, cukup Allah yang menilainya. Tugas kita adalah menyerahkan segalanya padaNya beserta ikhtiar, doa, dan dengan pupuk kesabaran tak berbatas. Beginilah sekarang makna sebuah hidup untukku, caraku memaknainya, mungkin terlalu sederhana tapi ini lebih dari cukup dari apa yang kuminta dalam setiap munajatku. Bukan untuk kesempurnaan…

Yang akan kulakukan adalah kembali menjalani hidup baruku, belajar akan sebuah pengabdian. Belajar untuk berguna bukan hanya untuk diriku sendiri. Tapi untuk orang lain yang tidak mampu menjalani hidupnya sendiri. Belajar untuk memberikan energi positif untuk jiwa-jiwa yang menolak sebuah kebahagiaan. Memberikan senyum meski tidak selamanya aku mampu terus tersenyum pada mereka. Karena telah melewati 3 tahun yang berharga ini, aku kembali mendapati diriku haus akan ilmu. Benar, aku tidak akan lagi berjalan tergesa-gesa.

Keegoisanku akan rasa tidak pernah puas kembali bangun tapi selalu kucoba untuk menahannya dengan segala yang terbaik yang kupunya. Aku akan memintaNya menuntun jalanku. Ilmu itu, meski sedikit demi sedikit akan kucapai maka aku akan meminta agar Allah tidak mencabut kesabaranku atasnya. Semoga Allah melindungi mimpi kecilku. Amin…

18 Desember 2012, 10.50 WIB

Untuk kalian orang-orang yang kusayangi, berharganya hidupku karena bertemu kalian dan berada diantara kalian. Betapa tidak ada yang lebih kusyukuri daripada bisa merasakan kebahagiaan meski dalam daftar panjang kisahku yang sudah ditulis olehNya, selalu ada warna berbeda yang selalu bisa kumengerti kenapa aku harus mendapatkan atau merasakannya dihidupku.

18 Desember 2012, 11.00 WIB

Bismillahirahmanirahim…

Mataharinya meredup, di utara rumahku arah jam 3 kudapati rona biru malu-malu langit tadi pagi berubah kelabu…
Butir-butir kecil kurasakan menyapu sedikit demi sedikit lapang wajahku, rupanya tidak ada kata bosan untuk tetesan bening itu menaungi separuh dari alam raya ini…
Subhanallah…
Langkahku seakan dikunci agar hanya menikmatinya dibalik lempeng-lempeng pipih kaca berembun yang tak lagi sebening dulu…
Kemudian hanya menunggu yang bisa seorang insan sepertiku untuk melihat kembali langit itu menjadi cerah
Diluar sana, biarkan belahan bumi lainnya mulai merasakan hangat suryaNya menghiasi atap bumi yang merangkak tersenyum
Inilah waktunya bagi orang-orang yang bersabar untuk merasakan siklus alami rotasi bumi oleh sang Khalik, sebuah cita rasa paling nikmat yang pernah ada
Karya yang tak terbantahkan keberadaannya
Sama sepertiku, terlahir sebagai tulang rusuk bagi mahramku
Hanya saja tempatku untuk melekat sempurna masih belum kutemukan
Ya, seperti dirinya…
Karya ternyata yang belum menemukanku…

Iklan

18 Desember 2012, 07.00 WIB

Bismillahirahmanirahim…

Sejatinya aku mulai merasakan hidup…
Bukan hanya sekedar saat aku bernafas dan menghirup butir-butir kasat mata oksigen yang memenuhi pagiku hari ini…
Bukan pula sekedar saat aku menangis di awal minggu, hari pertama kelahiranku di dunia membuatku merasakan untuk pertama kalinya ada sentuhan sayang yang memenuhi setiap hariku hingga detik ini datang…
Bukan juga ketika aku mulai merasakan perasaan pertama yang membuatku berkhianat pada diriku sendiri, perasaan aneh yang menjalar begitu saja tanpa berniat untuk kucegah…
Atau saat kedua pelupuk mataku penuh dengan genangan bening kristal kecil yang mulai menghiasi selaput mataku…
Sejatinya makna sebuah kehidupan itu kutemui, justru disaat aku mulai merasakan, betapa semua menjadi berharga saat aku mengucapkan Alhamdulillah…

18 Desember 2012, 07.50 WIB (Satu hari menjelang wisuda)

Bismillahirahmanirahim…

Hari ini matahari tampaknya tidak begitu pelit untuk tersenyum. Bau tanah yang lembab masih bisa menusuk penghiduanku. Tetesan dingin dari pucuk pohon mangga di dekat sumur di rumahku masih memberikan sensasi murninya dikulitku yang mencoklat alami. Sisa-sisa hujan mendekati penghujung tahun 2013…

Aku kembali tersenyum mengingat panjangnya waktu yang sudah kulewati hingga pagi ini datang. Hitungan beberapa bulan lagi, aku berumur 21 tahun. Haruskah aku bahagia?Wallahualam…

Aku mendapat sesuatu yang begitu tidak terduganya dari Allah, dzat Maha Sempurna yang tidak pernah berhenti untuk kupuji kebesaranNya. Aku kembali menjadi salah satu alasan bagi orang lain bahagia (bukan menurutku). Orang yang baik, selalu berusaha mencari celah yang rapat kututup (nawaitunya sih begitu) untuk bisa masuk dan mengenal lebih dalam dari sekedar sahabat. Haruskah aku bahagia?

Tidak. Ini jauh lebih mengkhawatirkan dari apapun karena semakin aku dekat denganNya aku mulai merasakan setiap langkah yang kuambil tidak lagi harus kutempuh dengan tergesa-gesa seperti dahulu. Yang terjadi sekarang adalah jika Allah melapangkan jalanku, maka akan tiba saatnya aku akan berhenti di tempat yang tepat dan jika Allah menuntunku justru ketempatnya berada maka akan kulepaskan sepenuhnya apa yang kusimpan untuk dia yang kukenal dulu (dia yang juga baik hatinya).

Tapi sungguh, aku tidak akan memintanya untuk menunggu atau menyimpan sedikitpun asanya untukku. Allah akan menunjukkan, siapa yang akan menjadi separuh dari alasanku untuk bahagia. Yang bisa kuucapkan sekarang adalah terima kasih. Terima kasih untuknya yang masih belum menyerah padaku. Tapi aku selalu berdoa padaNya, semoga kau dan dia yang kukenal akan menemukan rusuk yang tepat untuk kalian…

Satu hal yang membuatku teringat kembali akan sebuah harapan adalah bahwa tidak selamanya akan berjalan beriringan dengan apa yang sudah kita susun sebagai sebuah resolusi. Tata surya ini bahkan sudah diatur sedemikian rupa dengan rotasi terbaik yang pernah ada beserta seluruh isinya. Yang aku tahu adalah, tidak ada yang mampu mengelak dengan apa yang disebut takdir. Tapi yang aku yakini adalah, ikhtiar dengan kesabaran tanpa batas akan dibayar dengan yang terbaik oleh sang khalik. Sesuatu yang manis yang bisa kau petik sarinya saat semua sudah kau lewati. Subhanallah…

Tuhan…
Biarkan air mata ini jatuh bersama gelap
Biarkan air mata ini mengalir bersama laju angin
Biarkan malam ini aku terjaga dari tidurku
Menatap bayangan…hanya bayangannya
Biarkan hanya malam ini

Tuhan
Bisakah Engkau obati perih ini?
Perih yang hanya bisa kubagi denganMU bersama sepi

Sakit
Aku berlindung dari rasa sakit ini padaMU ya Allah
Aku menutup perih ini atas izinMU

Tuhanku…
Bisakah kau memberiku setitik cahaya?
Aku buta dan lupa dimana sekarang aku berada
Aku hanya memilikiMU…hanya Engkau ya Allah
Bisakah ketika pagi datang semua kembali seperti saat sebelumnya?
Kembali dimana aku terbangun tanpa mengingat puing-puing yang sudah lama tak kusentuh
Bisakah semua seolah tidak pernah terjadi?

Sungguh…
Aku hanya memilikiMU untuk kupercaya
Aku hanya memilikiMU saat aku tidak berdaya ditengah kebahagiaan sekelilingku

Sesak
Aku tidak bisa membebaskannya…
Tidak bisa lagi menghirup udara dengan nyaman

Aku menginginkanMU ya Allah
Kumohon isi hatiku ini dengan ketenangan
Maka biarkan gelap ini yang menyaksikannya
Biarkan gelap ini menahan cahaya menelusup untuk mengintip wajahku yang pias
Wajahku yang sembab
Wajahku yang terlihat bodoh dan menyedihkan

Berikan aku matahariMU ya Allah…

Title            : Just You!

Author        : ChoKyuQhiELF

Genre         : Up to U..:)

Main Cast :

-Cho Kyuhyun

-Song Gyu Gee

Other Cast :

-Lee Donghae

-Kim Joong Won (Yesung)

-Kim Syhae

-Han Yevie

-Choi Naan

 

Jengggg…jengggg…saia putuskan untuk ngepost FF tanpa ending lagi..silakan dibaca karya galau saia..:D

Ini sudah lama dibuat, tapi baru saia edit beberapa bagian akhir-akhir ini. So, Happy reading and No Bashing, ara!kekeke

Just You!

@Kyunghee University-14 Februari 2011

“Chankaman!”

Di lorong fakultas seni tampak seorang namja berpostur tubuh sekitar 180 cm tengah menyusul yeoja mungil yang tingginya hanya sebatas bahunya saja. Namja itu memegang sebuah bingkisan kecil ditangannya, berusaha agar yeoja berambut ikal sepinggang tersebut berhenti dan mau bicara padanya. “Oh, jebal. Ini bahkan hari Valentine, Song Gyu Gee~ssi” ucap namja itu setengah tidak sabar. Yeoja bernama Song Gyu Gee itu berhenti seketika, berbalik dan menatap datar ke arah namja tadi, yang sudah tersenyum girang melihat usahanya tidak sia-sia.

“LALU APA HUBUNGANNYA DENGANKU?PERSETAN VALENTINE ATAU TIDAK. APA KAU TIDAK BISA, SEHARI SAJA TIDAK MENGIKUTIKU?APA LAGI MAUMU HAH?” pekik Gee kesal. Dia menghentakkan kakinya dengan keras. Dia kesal. Amat sangat kesal, sudah 6 bulan belakangan ini, Kyuhyun selalu mengekor hampir setiap hari kemanapun dia pergi saat bertemu dengannya di kampus.

Kyuhyun hanya tersenyum simpul. Sedikitpun dia tidak menampakkan wajah kecewa setelah dibentak cukup keras oleh Gee. “Karena aku masih mencintaimu” jawabnya santai. “Ambil ini” Bingkisan kecil tadi sekarang sudah berpindah tangan secara paksa ke tangan Gee. Gee yang sangat kesal melihat tingkah Kyuhyun langsung membuang bingkisan tadi tanpa melihatnya sedikitpun.

“Kau…” ditatapnya Kyuhyun dengan sorot mata tegas sebelum melanjutkan kembali kata-katanya “Hanya masa lalu bagiku, Cho Kyuhyun~ssi. Dan aku sangat membencimu” Gee berbalik dan akan meninggalkan Kyuhyun. Tapi belum sempat Ia pergi, tangannya buru-buru dicekal. Kyuhyun memegang erat pergelangan tangannya. Namja itu menahan kepergiannya. “Jebal, Ini Valentine. Gee~ya, kau boleh membenciku, tapi paling tidak terima ini” Kyuhyun memungut kembali bingkisan spesialnya untuk gadis itu. “Dan kau harus tau satu hal, aku selalu mencintaimu” Gee merasakan pergelangan tangannya kini bebas. Tangan Kyuhyun dirasakannya telah mengendur saat namja berwajah tampan itu berjalan berlawanan arah meninggalkannya.

Sejak pagi Gee berusaha tidak mempedulikan keberadaan Kyuhyun yang terus mengikutinya dan melupakan fakta kalau hari ini adalah hari Valentine. Hari yang mungkin sangat spesial bagi beberapa orang. Tapi tidak untuknya, tanggal 14 Februari sudah jadi hari keramat baginya. Dan Ia sungguh sangat ingin mengubur dalam-dalam apapun yang berhubungan dengan Valentine dan juga Kyuhyun. Tapi akal sehatnya sedang tidak berfungsi semenjak namja itu masuk lagi dalam kehidupannya. Namja itu Kembali disaat dia sudah hampir berhasil melupakannya “Bodoh. Kau sangat bodoh, Cho Kyuhyun. Neo…jeongmal paboya. Kenapa kau harus muncul lagi” sungai kecil mengalir begitu saja saat siluet Kyuhyun sudah tidak terlihat di sana. Bingkisan mungil tadi lepas begitu saja dari tangannya. Gee tertunduk lemas di lorong fakultasnya yang sudah sepi dari mahasiswa tersebut. Pertahanannya runtuh. Jauh di dasar hatinya, dia tahu. Sangat tahu, kalau dia masih sangat mencintai namja itu. Cho Kyuhyun, namja yang coba dilupakannya. Namja yang meninggalkannya begitu saja tanpa dia sendiri tahu alasannya. Dan sekarang dia kembali seolah sesuatu tidak pernah terjadi pada mereka dan begitu mudahnya menampakkan dirinya dihadapan Gee. Kyuhyun sudah mengoreskan luka dihatinya. Saat yeoja itu tengah mengobatinya, berharap dia sembuh, Kyuhyun tanpa perasaan datang dan membuka kembali jahitan di hatinya yang belum juga kering. Membuat Gee kembali menangis saat teringat semua kenangan mereka. Kyuhyun bukan lagi seorang Angel baginya.

**{Flashback}**

@Banpo Bridge-14 Februari 2009

“Whooa..Kyeoppta..neomu neomu kyeopppta”

Gee terperangah melihat pemandangan air mancur pelangi di depannya. Ini bukan kali pertama dia melihat hal seperti ini. Tapi menghabiskan hari yang spesial bersama orang spesial di tempat seperti banpo bridge membuat tempat itu terasa sangat spesial juga dan tiba-tiba menjadi sangat cantik baginya. Gee merentangkan tangannya ke udara bebas. Matanya terpejam. Dia menikmati udara malam yang tidak terlalu dingin itu. Atmosfer kebahagiaan seakan menyelimutinya. Ini Valentine pertamanya bersama kekasihnya, Cho Kyuhyun. Tahun lalu, mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Hanya bisa ‘bertemu’ lewat telepon saja. Sejak pagi hari, dia sudah menghabiskan waktu bersenang-senang dengan kekasihnya itu.

“Kau bahagia sekali ya?” Kyuhyun terkekeh melihat Gee bersikap seolah-olah tidak pernah menginjakkan kaki ke sana.

Gee bergelayut mesra di tangan Kyuhyun “Keurom, tentu saja bahagia. Ini Valentine pertama yang kita rayakan bersama. Dan tempat ini jadi terasa spesial sekarang..ah..yeppota” Kyuhyun mengelus puncak kepala Gee. Raut wajahnya terlihat berbeda dari hari-hari biasanya. Ada sedikit kegalauan disana. Kegalauan yang tidak terbaca oleh Gadisnya itu.

“Genie~ya” panggil Kyuhyun lembut saat mereka tengah duduk di kursi panjang di sana, mengarah tepat ke depan sungai Han. Genie, panggilan sayang Kyuhyun untuk Gee. Tangannya kirinya tidak lepas mengenggam jari-jari tangan Gee dan sedikit memainkannya. Sedangkan tangannya yang lain merangkul mesra tubuh Gee di dekapannya. Dia ingin melupakan beban yang dirasakannya, paling tidak saat hari spesial seperti ini. Saat-saat terindahnya bersama kekasihnya. Gee hanya mendongak sebentar “Hmm” gumamnya pelan. Dia masih menikmati bahu Kyuhyun sebagai sandarannya. Dia sangat bahagia. Apalagi yang dicarinya sekarang. Dia sudah memiliki segalanya, Orang tua dan Kakak yang menyayanginya meski sesibuk apapun mereka mengurus Perusahaan yang bergerak di bidang Entertaiment milik keluarganya, prestasi yang baik di bidang seni, punya sahabat-sahabat yang selalu ada untuknya, dan tentu saja punya Cho Kyuhyun, namja yang terkenal tidak hanya di bidang akademik, tapi juga wajah dan suaranya yang bisa dibilang sempurna. Namja yang dipuja banyak yeoja di kampusnya.

Kyuhyun melipat tangannya di depan dada “Hanya itu yang bisa kau jawab, hah?bukan jawaban seperti itu yang ingin kudengar” Kyuhyun pura-pura merajuk mendengar jawaban Gee yang hanya berupa gumaman tersebut.

Gee menegakkan tubuhnya setelah dekapan Kyuhyun lepas. Gadis manis itu tersenyum kecil. Dia menangkupkan kedua tangannya di wajah Kyuhyun untuk menatapnya. “Aigooo..pacarku ini kenapa berubah sensitif sih” tatapnya ke dalam mata Kyuhyun. Kyuhyun yang masih berakting membuang pandangannya lurus menatap sungai Han yang tenang. Ada sedikit riak dihatinya. Ada yang menganggu perasaannya. Entah mengapa dia sedikit tidak rela kalau malam indahnya bersama Gee harus berakhir. Dia termangu. Pikirannya kacau. Sangat kacau. Tapi mana mungkin dia merusak malamnya bersama Gee dengan kegalauannya dan berkata kalau sekarang dia tidak baik-baik saja pada Gee.

“Hei…biasanya kau tidak pernah marah kalau aku menjawabmu seperti tadi” Gee masih mencari kejujuran di mata Kyuhyun. Dia tahu, namja di depannya bukan orang yang mudah merajuk hanya gara-gara hal kecil. “Ada yang mengganggu pikiranmu?”

“Gee~ya, Kau mencintaiku kan?” tanya Kyuhyun tanpa menghiraukan Gee yang sedang bertanya-tanya tentang perubahan sikapnya itu.

Gee tergelak mendengar pertanyaan Kyuhyun. Dia menjawil hidung namjanya itu. “Tentu saja. Dasar bodoh. Kalau tidak kenapa aku sekarang berada disini denganmu, bunnie~ya. Kau kenapa sih jadi aneh?” Kyuhyun tersenyum kecil. Dia mengacak rambut Gee yang terurai dan menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga.

“Yya..rambutku rusak tau. Kau tau berapa lama aku menghabiskan waktu untuk menatanya hah?” protes Gee, tapi senyumnya terukir disana. Membuatnya terlihat semakin manis. Tangannya kembali bergelayut pada Kyuhyun. Syal bermotif kotak milik Kyuhyun sekarang sudah melingkar di lehernya.

Kyuhyun tahu, sangat yakin malah kalau Gee memang mencintainya. Tapi tetap saja masih ada yang mengganjal perasaannya. Perasaan bersalah dirinya sendiri. Perasaan bersalahnya pada Gee. Yeoja yang juga sangat dicintainya. Tapi malam ini, dia sudah berjanji pada dirinya sendiri. Janji untuk membuat Gee tetap tersenyum dan bahagia. Walaupun dia tahu, dia pasti akan mengingkarinya. Hanya malam ini, apapun akan dilakukannya demi Yeojachingunya itu. Kyuhyun memeluk Gee dengan sangat erat seolah besok dia tidak bisa lagi memeluk Gee seerat itu, membuat Gee terperanjat.

“Anii..Saranghae Genie~ya. Jeongmal Saranghae” hanya itu yang diucapkan Kyuhyun, tapi selalu berhasil membuat wajah Gee bersemu. Kyuhyun semakin mengeratkan pelukannya.

“Nadooo..Jeongmal haengbokhae. Aku juga mencintaimu. Ini Valentine termanis selama hidupku” ucap gee. Terlihat jelas kalau dia bahagia malam ini. Kyuhyun melepaskan pelukannya dan mendaratkan kecupan kilat di bibir Gee. Gee yang tidak menduga sebelumnya hanya terkesiap mendapat kecupan yang sangat tiba-tiba dari Kyuhyun.

Mata Gee membulat “Yya..curang” omel Gee pada Kyuhyun. Bibirnya mengerucut. Terlihat sangat lucu bagi Kyuhyun, membuatnya semakin ingin menggoda yeojachingunya itu. Gee yang melihatnya hanya meleletkan lidahnya kesal. Dia terus menggumam ini dan itu pada Kyuhyun.

Kyuhyun hanya terkikik melihat kekasihnya yang kikuk mendapat kejutan darinya. “Yya..Aku namjachingumu, apa aku harus minta izin untuk menciummu??lagipula itu hanya kecupan” bela Kyuhyun tak mau kalah.

“CHO KYU…”

Kyuhyun meredam teriakan Gee dengan bibirnya lagi. Kali ini ciuman yang lebih lembut dan lebih lama dari sebelumnya. Gee masih saja terkesiap mendapat kejutan tidak terduga itu dari Kyuhyun, tapi kali ini tidak ada penolakan disana. Dia memejamkan matanya mendapat perlakuan yang manis itu dari namjachingunya. Jutaan bunga seakan mekar dihatinya, ciuman yang manis, tanpa nafsu dan bisa dirasakannya aliran cinta yang sangat besar sedang menjalari pembuluh darahnya, masuk dan merusak otaknya. Gadis itu merona, dia membalas perlakuan Kyuhyun dengan tidak kalah lembutnya. Tangannya refleks memeluk tubuh yang kurus itu, sampai mereka mengakhirinya dengan senyum yang menggoda dari Kyuhyun. Senyum seorang iblis yang paling tampan dimata Gee.

“Itu tadi baru ciuman yang sebenarnya. Genie~ya..Othe?” Kyuhyun tersenyum jahil. Dia mulai menggoda Gee lagi.

“CHO KYUHYUN!NEO JINJA!” Gee memukul Kyuhyun dengan brutal dengan tasnya. Tidak tahukah Kyuhyun kalau dia benar-benar malu sekarang. Namja itu tidak henti-hentinya menggodanya. Wajahnya memerah. Memalukan sekali. Entah seperti apa wajahnya tadi, batin Gee. Yang jelas ribuan kembang api seakan menyala-nyala dihatinya sekarang.

“Yya..kau menyukainya kan?bilang saja kau juga suka” goda Kyuhyun mencoba menghindari pukulan membabi-buta Gee.

“KAU BENAR-BENAR MAU MATI YA!AWAS KAU!”

“Song Gyu Gee…Mianhae..mianhae..Geuman..aku bercanda..ara..ara..aku tidak akan melakukannya lagi..yya..apho” kekeh Kyuhyun. Wajah Gee benar-benar bersemu merah sekarang. Perasaannya campur aduk, senang sekaligus malu. Dia membuang wajahnya dari hadapan Kyuhyun dan mendengus kesal. “Ara…ara..aku akan berhenti menggodamu..ayo tersenyum..kita selca ya” pinta Kyuhyun.

Gee mengerucutkan bibirnya lagi. Dia benar-benar malu kali ini.

“Shireo!”

“Ayolah Miss Song..Jebal” Kyuhyun mengeluarkan gaya Aegyonya untuk memohon pada Gee. Tidak tahan melihatnya, Gee akhirnya tersenyum juga. Tidak ada alasan baginya untuk marah pada Kyuhyun. Matanya, hidungnya, bibirnya bahkan saat diam pun Kyuhyun sudah terlanjur mencuri hatinya.

“Kajja…Kau beruntung Mr.Cho bisa selca dengan Yeoja cantik sepertiku” Gee tersenyum narsis sambil bergaya se-cute mungkin di samping Kyuhyun. Namja tampan itu mempererat pelukannya ditubuh Gee.

“Hana…Dul…Set”

CKREKKK

“yya..aku belum siap. Hapus sekarang Cho Kyuhyun!”

***

.::@Gee’s Apartment-19 April 2009::.

Gee masih mengaduk Strowberry Latte di depannya dengan malas. “Dia belum menghubungimu juga?” tanya Syhae pada sahabatnya yang sedang ‘berkabung’ itu. Dari tadi pagi dia hanya menekuk wajahnya, diajak pergi malas, diajak nonton malah hanya Syhae dan Yevie yang heboh nonton seri terakhir dari Film Harry Potter. Kue tart di meja bundar dekat sofa yang berukuran sedang didepannya hanya dipotongnya kecil, dia benar-benar tidak dalam keadaan baik-baik saja bahkan untuk merayakan ulang tahunnya sendiri. Kedua temannya menatapnya iba. Berbagai cara untuk menghiburnya, sudah mereka lakukan dan tidak ada satupun yang berhasil. Yeoja itu tak ubahnya seperti mayat hidup.

Gee hanya menjawab dengan gelengan “Kurasa kami sudah berakhir” katanya tanpa semangat. Diotaknya hanya ada Kyuhyun, Kyuhyun dan Kyuhyun. Namja itu sudah hampir 2 bulan raib entah kemana. Segala hal yang berhubungan dengannya pun sudah tidak bisa dihubungi. Ponsel, Twitter, Facebook, Me2day, atau Minihompinya juga tidak menghasilkan apa-apa.

“Dia benar-benar tidak meninggalkan pesan saat dia pergi?bahkan sekarang tidak mengirimimu kado?” cerocos Han Yevie yang sibuk merajut syal untuk namjachingunya, Yesung.

Syhae yang melihat tingkah Yevie menimpuknya dengan bantal berbentuk segitiga di sampingnya dengan gemas “Kau sudah menanyakan ini ratusan kali, Han Yevie~ssi” Syhae mengingatkan sahabatnya itu.

Bantal tersebut tepat mengenai kepala Yevie “Yya..Kim Syhae. Aku serius” racaunya kesal.

“Berhenti melakukan pekerjaan konyolmu itu, apa ‘kura-kura’ satu itu lebih penting dari sahabatmu sendiri hah?” omel syhae tak mau kalah.

Syhae merasa Miris sekali melihat sahabatnya seperti mayat hidup di hari ulang tahunnya sendiri. Entah kemana perginya namja bodoh itu. Kyuhyun menghilang tanpa jejak. Bahkan dua sahabatnya sendiri tidak tahu menahu kemana perginya Kyuhyun. Donghae dan Yesung adalah sahabat Kyuhyun sekaligus namjachingu Syhae dan Yevie. Mereka sendiri bingung dengan hilangnya Kyuhyun secara tiba-tiba. Menurut mereka, tidak ada yang aneh dengan Kyuhyun saat terakhir kali mereka bertemu sehari sebelum Hari Valentine. Mereka masih bermain bola dan latihan vokal bersama. Beberapa hari setelah itu, anak itu sudah tidak ditemukan lagi di rumahnya di kawasan Hongdae. Nomor handphonenya pun sudah tidak aktif. Ingin menghubungi orang tuanya di Paris, mereka bahkan tidak punya nomor teleponnya. Mereka bahkan tidak kenal Keluarga Kyuhyun yang ada di Busan dan Nowon. Tidak ada setitik harapanpun selain menunggu Kyuhyun sendiri yang akan menghubungi mereka.

“Yya..Song Gyu Gee..mau sampai kapan kau seperti mayat hidup begini hah?” tanya Syhae.

Gee hanya menggeleng lemas. Matanya tetap tidak beralih dari Mug bergambar Micky Mouse di depannya. Hadiah Valentine pertama dan terakhir dari Kyuhyun. Tangannya tetap mengaduk Latte tersebut tanpa berminat untuk meminumnya. Dia benar-benar galau. Bayangan tentang Hari Valentine beberapa bulan lalu masih jelas diingatannya. Bagaimana dia dan Kyuhyun menghabiskan seharian bersama dengan bersenang-senang. Valentine pertama dan mungkin terakhir baginya bersama dengan Kyuhyun. Dia masih sangat ingat, bagaimana bibir namja itu saat menyentuh bibirnya. Betapa hangat pelukan Kyuhyun. Betapa lembutnya sikap Kyuhyun selama ini padanya. Masih teringat jelas bagaimana Kyuhyun saat jahil padanya. Suara merdunya saat dia menyanyikan lagu untuk Gee. Dia sangat mencintai namja penggila Game itu, Cho Kyuhyun. Air matanya tumpah begitu saja. Dia menangis tanpa suara dan wajah tanpa ekspresi. Segalanya masih terasa jelas bagi Gee. Sekarang semuanya berubah. Kyuhyun meninggalkannya dan pergi entah kemana. Entah dia masih hidup atau sudah mati, Gee benar-benar tidak tahu. Dia tidak menemukan Kyuhyun dimanapun, dia tidak lagi mendengar suara namja itu. Dia tidak menemukan lagi namja itu disisinya.

“Yya..berhentilah menangisinya. Kalau memang dia benar-benar mencintaimu, dia akan kembali” hibur syhae penuh kesabaran.

“Kalau dia sudah mati bagaimana?” tanya Yevie tanpa rasa berdosa sedikitpun.

Kali ini tangan Syhae berhasil mendarat di kepalanya. “Yya Yeoja!berhenti bicara, atau kau yang akan kubunuh”

Yevie beringsut menjauhi Syhae dan pergi mendekati Gee. Dia meringis kesakitan “Mian, Gee. Sumpah aku tidak bermaksud mendoakannya begitu. Tapi mulutku benar-benar tidak ada remnya hari ini.” sesal Yevie dan Gee semakin terisak saja.

“Yya..otteoke???” kata yevie panik.

**{Flashback END}**

 

***

@Gee’s Apartment

Gee menghempaskan tubuhnya dengan keras di kasurnya setelah seharian sibuk dengan desain-desainnya di kampus. Tasnya dilemparkannya begitu saja ke sembarang arah, tangannya terbentang lebar di kasur empuknya itu. Gee menghembuskan napasnya dengan kuat. Hari ini dia benar-benar lelah. Dia memijit pelipisnya. Secangkir lemon tea hangat seharusnya bisa membunuh rasa penat dan pusingnya hari ini. Tapi jangankan untuk menyeduhnya, berjalan ke dapur saja tubuhnya sudah menolak. Dia sangat malas bergerak, kasurnya terlalu empuk untuk dihindari sekarang. Kim Ahjumma juga pasti sudah pulang sejak tadi sore, jadi tentu saja dia tidak bisa memintanya untuk membuatkan minuman rumah favoritnya itu. Gee mendesah. Terlalu banyak hal yang memenuhi otaknya hari ini. Pikirannya menerawang, dia menatap nanar ke langit-langit kamarnya. Tiba-tiba dia teringat kejadian tadi sore di kampusnya. Cho Kyuhyun. Namja itu benar-benar seperti hantu. Mengusik dan terus mengusik ketenangannya sekarang. Kemanapun Gee pergi selalu saja namja itu yang ditemuinya. Mungkin hanya ke toilet dia tidak akan bertemu dengan Kyuhyun. Sial, namja itu terlalu sulit untuk dibunuhnya dari pikirannya.

“Ayolah Song Gyu Gee…dia hanya masa lalumu” Gee mencoba menyemangati dirinya sendiri. Pakaiannya masih lengkap. Kemeja longgar berwarna abu-abu dan jeans yang membalut tubuhnya. Piyama di sudut lemarinya belum disentuhnya sama sekali sejak dia pulang. Dia mengacak frustasi rambutnya. Meyakinkan dirinya sendiri saja untuk membunuh namja itu dari pikirannya sudah sangat sulit. Apalagi melupakannya. Gee menyetel kembali playlist lagu di LG lollipop biru miliknya yang sudah jadul itu. Dia mencoba memejamkan matanya dan menarik napas dengan kuat untuk mengisi oksigen ke dalam paru-parunya. Dia yakin, kadar karbondioksida ditubuhnya pasti meningkat dua kali lipat lebih banyak sejak dia bertemu Kyuhyun lagi.

“Kau gila Gee..arghh..aku bisa mati gara-gara stres kalau begini caranya..otteoke?” gumamnya saat lagu Hurt milik Christina Aguilera tengah mengalun mengisi kesunyian di kamarnya. Kalau saja LG Lollipop itu bukan satu-satunya ponsel yang dimilikinya. Dia pasti sudah membantingnya ke dinding dan menyulapnya jadi Ipad keluaran terbaru. Sayang ponsel itu terlalu banyak menyimpan kenangannya bersama Kyuhyun. Kyuhyun?Jangan bilang kalau dia baru saja mengatakan kata Kyuhyun. Sial, sumpah demi Gokong dan gurunya, namja itu kini berputar-putar diotaknya.

Lagipula kalau dia mau dia bisa saja membeli ponsel baru, tapi punya satu saja sudah sering dianggurkannya, apalagi dua atau lebih. Gee beranjak dengan malas ke kamar mandinya untuk membersihkan sisa-sisa keringat yang menempel di tubuhnya. Dia menyeret kakinya dengan paksa dan menyampirkan kimono mandinya di bahu. Tangannya sudah akan meraih kenop pintu saat dia teringat dengan bingkisan pink bergambar Micky Mouse yang gagal dibuangnya dari Kyuhyun. Dia menoleh, matanya sibuk menyapu penjuru kamarnya. Sampai akhirnya ditemukannya tas putih miliknya tergeletak di depan pintu masuk kamarnya. Dia meraih tas yang tadi dilemparnya sembarang, dan mencari-cari benda kecil itu. Dia menimang-nimang akan membuka atau tidak bingkisan itu setelah sampai di tangannya. Keningnya berkerut. Dilema. Satu sisi, dia penasaran apa yang ada di balik bungkusan itu. Sisi lain, kalau dia membukanya. Sama saja dia rela berurusan lagi dengan yang namanya CHO KYUHYUN itu.

Lihat, namanya saja mampu membuatku seperti ini Gee membatin. Gee menggigit bibir bawahnya dan berpikir lama akan membukanya atau tidak. Sesekali dia menggeleng dan menghembuskan napas kuat. Akhirnya dia memilih untuk tidak membukanya sekarang. Mungkin besok, atau kapan saja saat moodnya baik dan keadaan hatinya tidak gloomy seperti beberapa bulan belakangan ini. Lalu kapan?

“Ah..sudahlah, fokus..fokus..lebih baik aku mandi” diletakannya barang tadi di dalam laci di meja riasnya.

“Ya Tuhan..aku harap air ini akan membuatku amnesia besok” dengusnya dan menoleh dengan perasaan sedikit tidak rela kearah laci mejanya. Mau bagaimana lagi. Paling tidak ini akan mengurangi kadar kerinduannya pada namja itu.

Yah, berdoalah Song Gyu Gee semoga pilihanmu tepat batinnya saat kakinya melangkah dengan berat ke dalam kamar mandi tersebut.

***

“Chagi..bisa jalan pelan dikit gak sih..”

Donghae terus merengek pada Syhae agar kekasihnya itu tidak perlu tergesa-gesa untuk sampai ke kelas Gee. Dari tadi mereka mengitari sekeliling kampus hanya untuk mencari kelas seni di sana.

“Yya..wae irae?Yya KIM SYHAE!” tapi hasilnya belum juga tampak. Mereka bingung. Tentu saja, luasnya Universitas itu membuat mereka kesulitan. Syhae berjalan dengan cueknya.

Syhae yang sedari tadi menarik pergelangan tangan Donghae refleks menoleh kebelakang “Aku capek sayang” Donghae yang sudah ngos-ngosan memegang kedua lututnya sebagai jawaban. “5 menit ya” ucapnya di sela-sela dia mengisi paru-parunya dengan oksigen.

“Ah..Ppaliwa..Kau ini namja bukan sih..Lee Donghae~ssi aku harus ketemu Gee. Ini penting” decaknya tak sabar. Donghae menghembuskan napasnya dengan kencang tanpa menghiraukan yeojachingunya itu.

“Sudahlah, aku sendiri saja” Syhae terus berjalan ke depan tanpa mempedulikan Donghae. “astaga, orang itu tadi bilang ada di lantai 3. Mana sih kelasnya” tengoknya kedalam kelas-kelas yang dilewatinya.

“Yya..chagiya” Donghae berusaha menyejajarkan langkahnya dengan Syhae. Yeoja itu punya energi sebanyak apa sih. Donghae mendengus, sedikit sebal.

“Aku melihatnya hae saat kita tiba di sini 2 hari yang lalu” Syhae terus berjalan, kali ini irama kakinya sedikit pelan. Dia sama lelahnya dengan Donghae. Tapi ada hal yang lebih penting daripada memikirkan dirinya sendiri sekarang “Maaf, kau tau kelas Seni dimana?dan mungkin kau kenal seseorang bernama Song Gyu Gee?” Syhae berhenti untuk bertanya pada seorang yeoja berkacamata hitam yang sedang berjalan berlawanan arah dengannya. Yeoja itu mengerutkan alisnya sejenak dan menatap heran dengan dua orang di depannya, tapi dia tersenyum lebar saat matanya bertemu dengan wajah tampan Lee Donghae. Siapapun pasti berpikir hal yang sama, namja ini tidak kalah sempurnanya dengan Cho Kyuhyun. Wajah tampan, tangan berotot, dan jelas-jelas perutnya terbentuk sempurna dibalik baju putih dilapisi kemeja coklat seorang Lee Donghae. Suaranya hampir keluar saat Syhae yang mendelik kesal padanya merangkul pergelangan tangan Donghae secara protektif.

“Yeobo, temani aku bertemu Gee yah” ucapnya semanja mungkin. Padahal hatinya meradang, namjanya harus ‘dinikmati’ oleh yeoja kecentilan di depannya. Membuat Yeoja itu berubah ekspresi, tapi dia tetap memberi isyarat dengan telunjuknya seolah berkata kurang-lebih-3-meter dari arah mereka sekarang sedang berdiri, itulah kelasnya.

“Kamsahamnida” Syhae kembali bersemangat dan langsung menyambar pergelangan tangan Donghae yang akan membungkuk pada yeoja itu. “Berhenti tebar pesona, Lee Donghae~ssi” desis Syhae setelah mereka menjauh dari yeoja tadi, tangannya yang merangkul tangan Donghae yang kokoh buru-buru dilepasnya dengan paksa. membuat Kekasihnya itu tersenyum kikuk. Senang juga sih melihat Syhae cemburu padanya.

“Eh, kau bilang melihat siapa tadi?nugu?” Donghae tiba-tiba teringat perkataan Syhae kalau dia melihat seseorang saat di bandara.

“Sudahlah, akan kujelaskan saat bertemu dengan Gee. Kita sampai nih” Syhae melongokan kepalanya ke dalam kelas tersebut. Matanya mencari sosok Gee, dibiarkannya pandangan orang-orang yang bertanya-tanya tentangnya. “Johta, dia disana” ucapnya pada diri sendiri.

Syhae tersenyum melihat sahabatnya yang selama setahun belakangan tidak ditemuinya. Donghae jadi ikut-ikutan menjulurkan kepalanya ke dalam kelas “Hei, mana sopan santunmu Nona Kim” bisiknya di telinga Syhae yang dibalas anggukan kecil dari kekasihnya itu. Dia sangat mengerti apa yang dimaksud Donghae.

“Chogiyo, Mianhamnida aku sedikit menganggu dan ya tidak sopan sih tadi” Syhae memegang tengkuknya dengan perasaan sedikit salah tingkah “Naneun Kim Syhae imnida, bisakah kau menolongku untuk memanggil Gee?” ucapnya sepelan mungkin pada seorang namja berambut pirang yang sedang sibuk dengan beberapa foto di tangannya.

Namja itu mengangguk ramah dan tersenyum pada dua orang dihadapannya itu “Gee~ya, ada yang mencarimu” teriak namja yang menurut Syhae cukup tampan. Tetap saja, dia merasa Donghae-nya lah yang lebih tampan. Gee mendongak dengan lesu dan meninggalkan sketsa yang sedari tadi hanya diamatinya di atas meja tulisnya. Siapa lagi yang kali ini mengganggunya. Gadis itu menggumam kesal. Dia berharap bukan namja itu lagi.

“Jinja..aishh..pasti namja itu lagi” sungutnya dan berjalan menjauhi pojok kelas yang menjadi sarangnya selama ini dengan perasaan hampir mendidih. Tapi dia sangat terkejut saat yang dilihatnya adalah sahabatnya. Dia hampir menjerit saat tahu didepannya adalah Kim Syhae, matanya melebar “KIM SY…” mulutnya langsung ditutupnya dengan kedua tangannya saat sadar mereka tidak sendirian dan banyak yang memperhatikan ‘Reuni’ yang tidak pada tempatnya itu. “Kim syhae..lee donghae” desisnya, hampir terdengar seperti bisikan. Gadis itu sangat ingin jingkrak-jingkrak sekarang juga. Dia benar-benar tidak percaya sahabatnya itu sudah kembali ke Korea. Hampir 1 tahun Syhae, Yevie, Donghae dan Yesung tidak bertemu. Syhae, Yevie dan Donghae memang satu Universitas. Mereka kuliah di Jepang. Entah kebetulan atau tidak, yang jelas mereka berada di sana selama ini. Sedangkan Yesung, dia sedang mendalami sekolah aktingnya di London. Tapi hampir 10 kali setiap 3 bulan dia bolak-balik London-Jepang-Korea. Apalagi kalau bukan demi Han Yevie kekasihnya, dan Keluarganya di Seoul. Dia bilang akan kembali dan menetap di korea 1 minggu lagi. Itu artinya, pekan depan mereka semua akan berkumpul lagi. Kehebohan akan segera dimulai.

Gee membawa dua orang itu ke balkon dekat kelasnya dan duduk di kursi panjang disana. “Kapan kalian kembali hah?kalian tau aku hampir mati kebosanan menunggu kalian pulang” Gee menggembungkan pipinya. Dia sangat merindukan sahabat-sahabatnya itu “dan mana yevie, jangan bilang kalian hanya berdua?” cerocos Gee tanpa memberi Syhae dan Donghae celah untuk berbicara.

“Bisakah kami bicara dulu?dari tadi kerjaanmu nyerocos, kurasa bernafas pun kau tidak sempat” cibir donghae yang akhirnya mampu membuat Gee tenang dan tidak bersikap seolah-olah mereka habis melakukan ekspedisi ke bulan. “kami bukan dari bulan atau mars Gee~ya” kata Syhae sabar, dia terkikik melihat Gee yang sudah mengerucutkan bibirnya lagi.

“Tapi..” Gee sangat ingin protes tapi dihentikan oleh Syhae “Tapi kau tidak mau memelukku dulu?kau tau kakiku sepertinya sudah lepas dari tempatnya, hah?” ucapnya sebelum Gee mulai bicara tanpa rem lagi. Reuni sahabat itu terjadilah. Mereka berpelukan sementara Donghae tertawa melihat tingkah yeoja di depannya sudah seperti anak kecil.

“Ah..Kau ini, aku jadi lupa kan tujuanku kemari” Syhae teringat lagi kejadian saat dibandara. Donghae menyikut lengan Syhae, dia memicingkan matanya seakan memberitahu kalau ini bukan waktu yang tepat. Syhae langsung tanggap “Sudahlah, nanti akan kuberitahu saat kita makan malam saja. Ahhh…aku benar-benar merindukannmu dan kau…sejak kapan rambut ikalmu sepanjang ini” Gee memelintir rambutnya ikal panjangnya. Dia memang tidak berniat memotongnya.

“Sejak lahir”

“Yya..aku serius!ah sudahlah, tapi kau harus memberi kami air. Ikanku sudah hampir mati berjalan kemari” Syhae mencolek Donghae yang kini pura-pura sedang menguap di sampingnya.

“Kalau begitu ayo kita pergi…ah tasku..chankaman” Gee berlari kekelas, tidak sampai 1 menit dia sudah keluar bersama tas coklat yang senada dengan t-shirt tanpa lengan berwarna putih dan cardigan coklat menutupinya.

“Kajja”

***

@Mochiro Coffee House

Gee tersenyum pada waiter muda berambut coklat disana. Dia mengangsurkan kertas kecil yang sudah berisi pesanan mereka dan kembali menatap dua sahabatnya itu. “Jadi, sekarang ceritakan padaku hal penting tadi” Gee mengunyah Potato Chipsnya dengan mulut menggembung.

“Jigeumyo?seingatku aku akan memberitahumu saat makan malam deh” Syhae mengangsurkan sebotol air mineral melihat mulut penuh Gee “telan dulu, aku takut melihat gaya makanmu sekarang” tatapnya sedikit takut, kalau-kalau temannya itu akan tersedak.

“Gwenchana?” Donghae tertawa melihat tingkah Gee, tidak ada yang berubah menurutnya, gadis itu tetap seperti yang dulu,bahkan Gee semakin cantik sekarang. “Pelan-pelan Gee~ya”

“Gwenchana..hanya terlalu bahagia” Gee mengacak-acak isi tasnya dan mengeluarkan sebuah benda kecil dari sana “ah kamsahamnida” Gee tersenyum sopan saat pesanan mereka sudah tersaji di meja.

“Lalu, hal sepenting apa sampai kalian rela mematahkan kaki menuju kelasku hah?” tatap Gee penuh tanya sementara tangannya mengaduk pelan isi cangkirnya.

“huh, strawberry latte lagi” sungut Syhae. “Kau tidak pernah bosan ya dan sejak kapan kau suka ngaca begitu?” Syhae memperhatikan Gee yang sedang merapikan poninya yang sedikit tersibak. Syhae sengaja mengulur waktu berharap sahabatnya itu tidak terlalu kaget dengan kabar yang dibawanya. Gee menyeruput Lattenya dan memasukkan kembali cermin kecilnya kedalam tasnya, dia tersenyum lebar, tapi matanya tak henti-henti mencari jawaban di mata Syhae.

“Sudahlah Kim Syhae, kau sengaja mengulur waktu begini pasti ada yang sangat penting” Dia memang tahu benar kebiasaan sahabatnya itu saat mengulur waktu. “aku benar kan Haehae?” tatapnya pada donghae yang sedang bersandar di punggung kursi dengan Ipad yang sudah terkoneksi *?* dengan akun twitter miliknya itu. Haehae. Itu panggilan khusus Gee untuk Donghae.

Donghae tertawa, dia mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan Gee “aku juga penasaran apa yang akan dikatakannya..awas saja kalau tidak penting, Syhae harus membayarnya” diliriknya Syhae yang sudah manyun di sampingnya.

“Ah..kalian ini, aishh ara..ara..Gee~ya..ehmm..” ucapnya sedikit khawatir. Syhae nampak berpikir keras, dia menimang-nimang keputusannya dalam hati. Cepat lambat Gee juga pasti akan tahu meski dia tidak mengatakannya. Syhae akan sangat merasa bersalah karena harus menutupi sesuatu yang jelas-jelas diketahuinya.

Gee menopangkan tangannya didagu. Dia menunggu apa yang akan dikatakan sahabatnya itu.

“Dia disini”

Akhirnya, tanpa basa-basi dan sangat hati-hati Syhae mengatakannya pada Gee. Gee dan Donghae saling menatap Syhae bergantian.

“Jangan menatapku seperti itu. Aku serius, dia kembali”

Donghae yang tadi sibuk dengan akun twitternya langsung berhenti saat Syhae mengatakan hal tersebut pada mereka.

“Nuguya?” Donghae benar-benar bingung tapi saat dilihatnya raut wajah Gee yang berubah datar dia langsung mengerti dan berhenti bertanya.

“Aku melihatnya di bandara saat kami kembali Gee~ya” Syhae mengacuhkan pertanyaan Donghae.

“Aku sudah tahu” ucap Gee malas. Gadis itu terlihat mengulum senyum dengan kikuk.

“Dan hei, jangan menatapku seolah aku baru saja putus cinta. Dia hanya Kyuhyun” entah dari mana Gee punya keberanian menyebutkan nama namja itu lagi. Namanya keluar begitu saja dari tenggorokannya. Buru-buru Gee menyeruput Lattenya dan sedikit salah tingkah dengan tatapan Syhae yang diartikannya sebagai desakan karena Gee tidak pernah menceritakannya pada mereka. Syhae terus menuntut Gee dengan tatapannya. Gee tahu dia memang tidak pandai berbohong, apalagi di depan sahabat-sahabatnya ini.

“Iya..iya..aku juga salah, tapi dia hanya masa lalu Sy~ya..apa gunanya aku bercerita kalau dia sudah kembali sejak enam bulan la…”

“ENAM BULAN?MWORAGO?” pekik Syhae yang tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar “Dan kau, tidak pernah sekalipun menceritakannya pada kami?” tuntutnya.

Gee yang sadar sudah kelepasan bicara hanya mendesah “Kubilang dia hanya masa lalu dan kurasa dia tidak cukup penting untuk kuceritakan pada kalian” ucapnya sesantai mungkin. Direntangkannya kedua tangannya ke udara. Menunjukkan wajah cerianya sebagai kamuflase. Entah kenapa ada yang berdenyut-denyut dihatinya saat nama Kyuhyun jadi topik pembicaraan mereka.

“Geotjimal”

Syhae dan Donghae berkata bersamaan, membuat Gee mengerutkan kedua alisnya heran “Kalian benar-benar serasi ya” ucapnya lagi. Senyumnya tak henti-hentinya terukir menutupi kegalauannya dari sahabat-sahabatnya.

“Kau tidak benar-benar melupakannya” Syhae berkata penuh keyakinan diiringi anggukan Donghae yang mengiyakan kekasihnya itu.

“Keurom, kami mengenalmu Geegee” Donghae menekan dahi Gee dengan telunjuknya, membuat gee mengerang kecil. “Cho Kyuhyun yang bodoh itu masih jadi orang pertama yang kau harapkan” sahut Syhae lagi.

Gee hanya menatap dengan tatapan kosong ke arah jalan yang penuh dengan mobil yang berseliweran di sana dan beberapa pejalan kaki yang sibuk dengan aktivitasnya masing-masing, tangannya kembali mengaduk sisa latte di cangkirnya, dia tersenyum lagi tanpa mengalihkan tatapannya yang kini tertuju pada pasangan yang sedang bergandengan tangan.

“Tapi dia orang pertama yang kubenci” gumamnya pelan, dia terkekeh dan menyeruput kembali sisa-sisa latte yang sudah mendingin itu.

“Sudahlah, kalian ini, aku tidak sesuram itu untuk jatuh ke lubang yang sama dua kali, sudah cukup aku menangisinya dulu” Gee mengibaskan tangannya, mencoba menenangkan dua orang yang jelas memang sangat ragu padanya. Dia tertawa. Tawa yang dipaksakan.

Syhae hanya mengedikan bahunya melihat temannya itu. Dasar, masih saja bisa berkelit padahal mereka sangat tahu Gee bukan orang yang dengan mudahnya melupakan Kyuhyun.

“Geure, aku kalah, iya kau memang membencinya. Yah, anggap saja begitu deh” Syhae memasukkan suapan terakhir Cup Cake pesanannya ke dalam mulutnya “Aigoo..tau begini aku tidak usah repot mengitari kampusmu tadi” sungut Syhae.

“Dan aku tidak perlu repot jadi korbannya” Donghae melirik sekilas Syhae yang sudah melotot padanya. Gee terbahak melihat pasangan di depannya yang sedang beradu argumen. Syhae melipat kedua tangannya didada, menuntut jawaban dari kekasihnya “Jadi kau tidak ikhlas, hah?kau tidak suka mencari Gee bersamaku?Huh dasar manja, bisamu hanya mengeluh” omelnya.

Donghae menggeleng kuat “Aniyo chagi..ani..maksudku bukan begitu” dia terlihat salah tingkah, dan mulai mengeluarkan senyum khasnya pada Syhae. Syhae yang hapal betul kelakuan Donghae hanya memanyunkan bibirnya. Dia sudah tidak terpengaruh lagi dengan kebiasaan Donghae yang satu itu. Tersenyum manis dan mengeluarkan tatapan teduhnya.

“Ah kalian memang tidak pernah berubah ya” kekeh Gee, diam-diam dia jadi teringat Kyuhyun lagi. Mereka juga sering bertengkar dulu, hanya gara-gara hal kecil. Dia jadi merindukannya, merindukan saat-saat itu. Air muka Gee berubah, ada sedikit kesedihan disana. Dia termangu dalam lamunannya. Selama beberapa menit, bayangan tentang masa lalunya terus berputar bagai sebuah rol film. Dibayangannya hanya ada dirinya dan Kyuhyun. Telinganya seakan sudah pekak dengan suara-suara di sekitarnya, bahkan suara Donghae dan Syhae yang sedang berdebat pun semakin mengecil. Yang bisa didengarnya hanyalah suara lembut Kyuhyun saat menyanyikan Over The Rainbow dengan Grand Piano putih di Aula kampusnya saat mereka sedang bolos dari Kelas Mr.Kim beberapa tahun lalu. Tidak ada suara lain yang sedang berputar-putar di otaknya. Gee terlalu larut dengan alam bawah sadarnya, sampai-sampai dia tidak mendengar usaha Syhae untuk mengembalikannya ke dunia nyata.

Kau menyukainya?

“Gee~ya” panggil Syhae.

Mau kumainkan lagu yang lain?Aku pianis yang hebat lho..

“Song Gyu Gee” ulang gadis itu lagi.

Song Gyu Gee…Aku keren kan?

“Geegee?”

Genie

“Gwenchana?Geegee kenapa kau bengong?” Donghae terlihat khawatir. Mata gadis yang sudah dianggapnya sebagai adiknya itu terlihat berkaca-kaca.

Gwenchana, kenapa kau bengong?Ah, aku terlalu keren ya sampai kau bengong begitu?

“Hee..apa yang kau bilang barusan?” jawab Gee linglung, dia mendongakkan kepalanya keatas menyadari sesuatu dimatanya mulai menggenang. Buru-buru dia mengucek matanya. Kenapa kenangan-kenangan itu harus datang disaat tidak tepat seperti sekarang. Saat dia sedang mencari kekuatan didepan sahabat-sahabatnya.

“Ah, aku kelilipan” sangkalnya.

Syhae memutar bola matanya. Dia mulai menggerutu panjang lebar lagi, membuat Donghae dan Gee tidak bisa berkutik dan saling lempar pandang. Mereka hanya bisa menahan tawa dibuatnya. Donghae menatap iba pada Gee. Begitu besar kah pengaruh Kyuhyun bagi gadis itu?

“Ah sudahlah, lupakan saja” sungut Syhae. Diam-diam tanpa mereka sadari gadis didepannya melenguh. Tiba-tiba dadanya terasa sakit dan dia tahu siapa penyebabnya. Namja itu. Cho Kyuhyun. Cuma dia yang bisa membuatnya begini.

***

{Kyuhyun POV}

Yeoja itu, Song Gyu Gee. Terlalu banyak kesalahan yang sudah kubuat padanya. Aku tahu, muncul kembali dihadapannya pasti akan mengusiknya dan mungkin membuatnya semakin membenciku. Orang sepertiku memang pantas dibenci oleh Yeoja sebaik Gee. Kulihat dia sedang duduk sendiri di Cafetaria kampus. Bisa kutebak apa isi cangkir di depannya, Strawberry Latte. Pasti itu. Minuman kesukaannya.

“Aku tidak bisa, Bunnie. Ini terlalu enak. Rasanya terlalu sulit kalau aku harus berhenti meminumnya”

Berulang kali aku mengingatkannya agar berhenti meminum semua hal berbau Kopi. Tapi dia keras kepala. Dia sudah kecanduan minuman itu.

“Kau harus cicipi”

Semuanya masih terasa sama. Suaranya yang manja. Wajah lucunya saat kesal. Ekspresi wajahnya yang manis. Semua itu masih bisa kuingat. Satu hal yang tidak dapat kupungkiri.Aku mencintainya!

Kulihat matanya menatap serius ketumpukan sketsa di depannya sambil mengaduk isi cangkirnya. Aku harus mengatakannya. Segalanya. Aku ingin dia tahu aku masih sangat mencintainya dan tak pernah sehari pun aku menghabiskan waktu tanpa mengingat tentangnya. Aku akan menghampirinya. Aku tahu dia akan marah padaku dan pasti beranjak dari sana. Aku tahu, ini keegoisanku. Tapi hidup dengan dibenci oleh orang sepertinya membuatku tersiksa. Aku menyayanginya.

“Gee~ya” panggilku memecah konsentrasinya. Dia mengabaikanku. Tentu saja, siapa yang mau memaafkan orang sepertiku. Siapapun akan menyalahkanku karena membuatnya tersakiti selama ini. Tidak ada sahutan. Dia tetap diam dan sibuk dengan sketsa-sketsanya seolah aku tidak pernah ada disana. Biasanya dia akan dengan cepat menjawabku. Dia akan memanggilku dengan suaranya yang manja itu dan akan marah kalau aku mengabaikannya. Aku merindukan dia memanggilku lagi seperti dulu.

“Bunnie…aku sedang memanggilmu dan itu tidak sopan. Kau harus menatap wajahnya ketika seseorang mengajakmu bicara!”

“Gee~ya, aku sedang memanggilmu dan itu tidak sopan. Kau harus menatap wajahnya ketika seseorang mengajakmu bicara?” Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan padanya. Itu yang selalu diucapkannya tiap kali aku mengabaikannya dan sibuk dengan pekerjaanku sendiri saat dia mengajakku bicara. Setiap berhadapan dengannya, kerja otakku seakan terganggu dan aku selalu melupakan semua yang akan kukatakan padanya. Tetap tidak ada sahutan. Bisa kulihat dia melirik kecil kearahku. Sempat kulihat juga matanya membulat kaget mendengarku mengatakan hal yang sama seperti yang dikatakannya. Yang kudengar dia hanya mendesah kecil setelah itu. Pasti lelah karena aku terus bersikap seperti penguntit yang menyebalkan. Aku sungguh tidak tahu cara apa lagi yang harus kulakukan agar dia mau bicara padaku.

“Genie~ya” ulangku sekali lagi. Genie. Hanya itu yang bisa kulakukan. Panggilan kesayanganku untuknya.

“Genie?Eh..itu seperti jin wanita. Ehmm.. Gwenchana, dia kan cantik dan tentu saja hebat. Keurom, sejak detik ini, kau kuperbolehkan memanggilku begitu. Ah, bahta!Kalau begitu sejak detik ini juga kau akan kupanggil Bunnie, deal!”

Dadaku terasa berdesir saat mengucapkannya. Perasaan itu tidak pernah berubah bahkan saat aku tidak bisa melihatnya selama ini. Dia menghentikan aktivitasnya dan mendongak kepadaku. Tatapannya masih sama, datar dan tanpa ekspresi. Aku benar-benar seperti batu dibuatnya.

“Namaku Gee. Song Gyu Gee. Jangan pernah memanggilku dengan nama itu lagi” ucapnya seakan dia jijik dipanggil dengan Genie seperti yang biasa kulakukan padanya. Tentu saja dulu, sebelum si bodoh ini menyia-yiakan Yeoja paling berharga yang pernah ada dan kumiliki.

Dia merapikan sketsa-sketsanya dan bangkit dari kursinya. Dia akan pergi. Tapi aku tidak bisa membiarkannya pergi, sungguh tidak bisa. Aku tahu tidak bisa menebus kesalahanku padanya. Tapi dia harus tahu aku tidak pernah berhenti mencintainya. Kuraih pergelangan tangannya dengan lembut tapi dia menolaknya.

“Lepaskan” pintanya padaku. Tapi tidak kulakukan karena aku ingin bicara padanya. Dia berontak dan berhasil melepaskan tangannya dari cekalanku. Dia berjalan menjauhiku. Aku menyusulnya. Berlari menyusulnya dan kembali meraih tangan mungilnya. Dia menepisnya dan melepas secara paksa cekalanku ditangannya. Tapi aku tidak akan menyerah. Kucekal kembali dengan kuat tangannya hingga akhirnya dia menyerah dan memilih diam. Tangannya melemah digenggamanku. Sorot matanya yang tajam menatapku. Aku menyakitinya lagi sekarang. Pasti dia sangat sakit. Maaf…

“Mian..jeongmal mianhae” Kata-kata itu keluar begitu saja. Aku tahu kata maaf sebanyak apapun tidak akan meredakan amarahnya dan menghapus kebenciannya padaku. “Mianhae Gee~ya” ucapku pelan padanya.

Dia mendesah lagi.

“Setelah yang kau lakukan selama ini padaku?mudahnya Cho Kyuhyun. Lupakan, aku harus pergi”

Dia menatapku tajam. Matanya memintaku agar melepaskan tangannya. Tapi tidak akan. Aku tidak akan melakukannya. Dia harus mendengarku kali ini.

“Jebal” pintaku padanya. Aku rela memohon padanya agar dia mendengarkanku “Aku tahu aku salah. Aku tahu kau benci padaku. Aku tahu Gee~ya” sesalku padanya. Aku tahu dia bosan mendengarnya. Dia menyeringai mengejekku. Aku sudah merubahnya menjadi seorang gadis dingin. Ini salahku. Gadisku yang lembut itu kini sudah sedingin es. Aku bahkan belum bisa mencairkan hatinya.

“Lalu dengan begini, kau berharap aku melupakannya begitu saja, benar begitu?memaafkan mungkin mudah Kyuhyun~ssi. Tapi melupakan apa yang sudah kau lakukan padaku kurasa itu sulit. Demi Tuhan, kita sudah berakhir sejak kau meninggalkanku tanpa aku pernah tau alasan sebenarnya. Kau tak lebih sebagai masa laluku sekarang. Jadi pergilah, biarkan hidupku tenang” jelasnya panjang lebar. Dia bohong. Aku yakin saat menatap matanya. Dia mungkin membenciku tapi rasa cintanya masih ada disana.

“Aku menyayangimu Gee~ya. Jeongmal. Tidak bisakah kau memberiku kesempatan Gee~ya?Aku ingin menebusnya, jebal” Egoisku keluar. Harusnya tidak kulakukan sementara aku tahu ini akan lebih menyakitinya. Gee kembali memutar matanya.

Dia menatapku selama beberapa saat. Benar-benar menatapku. Mata itu. Aku merindukan tatapan lembutnya. Mata yang selalu berbinar saat aku berlari menghampirinya dulu. Kubalas tatapannya dengan tatapan memohon. Ekspresinya benar-benar datar.

“Kau tau seberapa hancurnya aku saat kau pergi?Kau tau berapa lama aku menghabiskan waktu untuk menunggumu?Kau tau betapa khawatirnya aku saat kau pergi hah?Aku takut kalau kau terluka atau bahkan lebih buruk dari itu, aku sangat khawatir tapi apa kau tau itu?” dia terus berkata tanpa memberi celah untukku bicara padanya.

“Aku…” belum juga selesai dia memotongku.

“Kau tau berapa seringnya aku melewati tempat-tempat yang sering kau hampiri, berharap kau ada disana dan datang padaku?Kau tau berapa sering aku menangisimu hah?KAU TIDAK PERNAH TAU KAN CHO KYUHYUN!KAU TIDAK PERNAH TAU!” pekiknya dengan amarah yang membuncah. Airmatanya merebak. Demi Tuhan, aku tidak sanggup melihatnya menangis. Aku tidak berniat melakukannya hingga dia menangis seperti ini. Aku menyakitinya. Dia tertunduk. Aku bisa merasakan airmatanya yang hangat membasahi tanganku.

“Aku benci menangis. Bunnie, kau tau? menangis itu membuang energi saja dan membuat wajah seseorang menjadi jelek. Kalau kau yang membuatku menangis, aku tidak yakin akan membencinya..”

Bodoh. Aku hanya diam. Tidak ada yang bisa kukatakan untuk menghentikan tangisannya. Aku mencoba memeluknya. Persetan dengan mata-mata yang memandangi kami sekarang. Aku tidak peduli dengan mereka. Dimataku hanya ada Gee. Hanya dia yang bisa kulihat. Dia mendorong tubuhku sekuat tenaganya berusaha agar aku tidak menyentuhnya.

“Jangan sentuh. Jebal. Jangan pernah menemuiku lagi” ucapnya disela isakannya.

“Aku tidak yakin akan membencinya…karena aku yakin kau akan menghapusnya untukku, benar kan?”

Ya. Aku akan menghapus airmatanya. Aku tidak ingin melihatnya menangis lagi karenaku. Aku benar-benar tidak peduli. Kutarik paksa dia dalam dekapanku. Kurasakan tubuhnya bergetar. Dia terisak hebat dipelukanku. Dia memukul-mukul dadaku dengan kedua tangannya. “Kau jahat..kau jahat padaku” kedua tangannya terus memukul dadaku. Orang-orang mulai menggumam. Apa peduliku. Gadisku bahkan lebih berharga dari pada keberadaan mereka sekarang.

Aku pantas menerimanya. Kudekap dia dengan posesif. “Uljima..ssh..uljima” ucapku sambil mengelus kepalanya. “Mian..tidak seharusnya aku melakukannya padamu Gee~ya. Aku bodoh. Aku memang orang paling bodoh yang menyakitimu. Hukum aku dengan cara apapun, tapi kumohon jangan membenciku. Jangan pernah membenciku. Jebal”

Airmataku juga tidak bisa kubendung. Aku sanggup melihatnya dari kejauhan. Aku rela kalau sekarang aku dipukul atau dihujat oleh semua orang. Tapi aku tidak akan sanggup kalau dia harus membenciku. Dia terlalu berharga untuk kusakiti. Aku terlalu mencintainya. Segala tentangnya, segala hal yang ada didalam dirinya. Aku memang bodoh. Aku egois. Aku kembali dan melanggar janji pada diriku sendiri agar tidak muncul dihadapannya lagi. Aku tahu akan membuatnya sakit setelah bertemu lagi denganku. Aku sangat tahu. Tapi aku juga tersiksa saat tidak melihatnya. Menatap wajahnya. Melihat senyum manisnya dan gayanya yang aegyo saat menatapku atau memohon agar aku tidak marah padanya. Aku tersiksa tidak mendengar dia memanggilku bunnie. Dia hanya menangis dan mencoba melepaskan diri dari pelukanku. Dia mengusap airmatanya dan mendorong tubuhku. Hampir saja aku limbung dan terjungkal kalau pohon yang menaungi kami tidak buru-buru kupegang sebagai tumpuanku. Gadis itu. Sejak kapan dia sekuat itu. Aku bahkan tidak dapat memperkirakan perubahan sikapnya tadi. Kupikir dia akan memaafkanku. Tapi aku salah dan aku tahu akulah penyebab dia menjadi begini.

“Nee..kau memang bodoh!Jadi jangan pernah muncul dihadapanku lagi” Gee meninjak dengan keras kedua kakiku dengan High Heels yang dipakainya “Brengsek kau Cho Kyuhyun” airmatanya terus mengalir walau sudah tak terisak. Dia berlari meninggalkanku. Aku? Lagi-lagi Cho Kyuhyun yang bodoh ini hanya bisa terdiam dan tidak berusaha menyusulnya. Aku tahu dia pasti ingin sendiri sekarang.

Kepalaku tiba-tiba terasa berputar-putar. Napasku terasa sesak. Kepalaku berdenyut-denyut tidak karuan. Orang-orang mulai menatapku lagi. Sekonyol apapun aku dihadapan orang yang lalu lalang menatapku dengan iba, aku tidak peduli. Mataku memanas. Sisa-sisa airmataku masih terasa. Kutekan kelima jariku tepat dikepala. Berharap aku bisa menemukan keseimbanganku dan denyutan brengsek itu akan berhenti. Kuremas rambutku dengan kuat. Tapi pandanganku mulai buram. Semua terasa melayang-layang. Orang-orang didepannku terlihat double. Mereka mulai terlihat menggelap. Ya Tuhan, kumohon. Aku merasa lelah. Benar-benar lelah. Kakiku lemas. Aku hanya bisa mengerang lemah, suaraku tercekat. Kepalaku rasanya ingin pecah. Hingga akhirnya sesuatu yang kutakutkan terjadi, hal terakhir yang bisa kuingat hanyalah suara seorang yeoja yang memanggilku dengan cemas.

“Cho Kyuhyun~ssi, Gwenchana?”

{Kyuhyun POV End}

***

-TBC-

Temanku…
Entah berapa lama adanya ketika lembayung sudah tak menyala ungu

Pucuk daun krisan sudah menguning…

Matahari juga merajuk, malu-malu menyembulkan wajahnya dibalik awan yang sebentar lagi akan menjadi kidung…

Entah berapa lama, sejak hari itu?

Persimpangan terakhir dimana kita berdiri berhadapan..
Hanya ada rumput yang bergoyang-goyang kompak disana, menggelitik tapak-tapak kaki yang meruam dan lebam

Kau tersenyum temanku..

Ya…
Kau tersenyum
Tarikan kecil dari kedua sudut bibirmu membentuk sebuah lengkungan itulah yang masih bisa kuingat sampai sekarang…

Hujan dipelupuk mataku mengaburkan segalanya…
Pesona nefertiti runtuh bersama hujan
Bilqis si Ratu Sheba pun tak akan bertahan dengan diademnya

Saat hujan kemarin sore!

Tepat saat terakhir lekukan-lekukan jemarimu yang hangat bertaut dibuku-buku jariku terlepas
Kepompong kita tidak akan bermetamorfosis lagi…
Candu bagi si lebah madu tidak lagi terasa manis

Itulah teman..saat goresan halus sebuah pena menuliskan pencapaian terakhirku akan sebuah pengharapan tiba-tiba terhenti

Tintanya habis!
Kertasnya basah, lusuh dan melebur bersama hujan yang berteriak akan kemenangan hari itu…
Hujan kemarin sore yang aromanya menguar begitu khas…

Temanku…
Kau dengar?katak-katak itu mulai menyanyikan lagu pengharapan, pilu, berisik diantara gemerisik hujan yang memenuhi ruang gerak sebuah cakrawala sore itu

Saat hujan kemarin sore!

Tubuhku ringkuh, meringkuk dibalik lembar demi lembar sampiran yang menutupi kulitku yang mengkerut..
Jari-jemariku membeku bersama hujan kemarin sore

Hanya kita yang menentang angkuhnya hari…
Berlari bersama gemuruh yang menggelegar…
Menentang kilatan cahaya disepanjang ufuk barat kala itu…

Lihat sebentar…
Ada kalanya mimpi akan oase itu penuh sesak dalam tidurku
Pemandangan dimana kau menuangkan secangkir coklat hangat untukku berputar-putar dengan sempurna

Angin kemarin sore berayun-ayun nakal membuat kelopak tanpopo bertebaran layaknya kapas..

Ringan…terselip diantara anak-anak rambut yang menjuntai

Temanku…
Mungkin kiranya rubi itu demikian menawannya dari safir yang kumiliki, hingga kau menjulurkan tanganmu alangkah mudahnya untuk merengkuh dan menempanya jadi perhiasan berharga bagimu

Ya…
Si safir ini hanya bisa menyala biru tak bernyawa melihat si rubi yang menawan
Si safir akan meredup!

Dengar…
Bukankah hujan kemarin sore itu terlampau berkesan?
Kabut yang menggumpal kian menipis menuju embun-embun kecil keesokan paginya, meninggalkan jejaknya ditepi-tepi bunga dan daun yang tergantung malas di rantingnya…

Ya…
Ini kisah tentang hujan kemarin sore teman
Kaki kita masih meninggalkan jejas-jejas disana
Tepi danau yang kita lewati penuh teratai memutih
Riak-beriak bersahutan..
Tergenang…kala hujan kemarin sore

Ya…
Ini tentangmu…
Tentang hujan kemarin sore!

Tak apalah..Semua sudah terjadi!

Didepanku hanya ada jalan setapak berselubung semak, masih bisa dipangkas!

Masih bisa membukakan celah untukku melangkah walau dalam gontai..Toh aku sudah terlanjur berjalan dalam hujan!

Ingin kembali aku kan basah..
Jalan lurus tetaplah basah…

Andai aku sampai di depanmu,tapi aku tetaplah aku yg basah…
Aku yg mudah terserang flu…
Aku yg menggigil dalam diam…

Euforia itu hilang!Ditelan gemuruh yg berkoar-koar…
Tertutup kidung yang begitu lekat

Tak apalah, andai engkau hanya bayangan…
Andai engkau hanya semilir…
Andai engkau bukan udara untukku…

Tuhan sudah memberikan secarik kertas, sebuah
pena, dan sepasang tangan untukku bisa menuliskan kisahku…

Kisah yang tak pernah sempurna bahkan oleh waktu!
Kisah yang hanya akan sempurna olehNYA…

Karena aku bukan author yg nyata!

Aku ini apa?
Apakah hanya noktah..Yg Mungkin tak pernah terlihat?

Mulutku hanya berucap lirih…
Kau, mereka, bahkan tak pernah mengerti gerak bibir ini

Tak apalah..
Sudahlah…
Lupakanlah…

Cukup kau melihat dari kacamatamu itu!
Seperti apapun kuterlihat, tak apalah…
Tak terlihat pun juga tak apalah…

Ya…cukup!

Tag:

Entah kenapa malam ini sunyi begitu memakanku…katakanlah aku sedang dalam fase menuju matur, biarkan andai-andai ini melayang sementara

Menjadikanku berpikir jauh dari sebelumnya..disaat orang-orang sibuk dengan bunga tidurnya,aku malah masih betah duduk disini…

Duduk dalam malam…

Entah ini sebuah renungan malam atau hanya refleksi dari kepenatan?

Aku tak tau!

Nyatanya sekarang aku sedang berpikir tentang sebuah perasaan…

Apa yang ramai mereka sebut dengan cinta,yang mereka elu-elukan seolah tiada bosan…

Sederhana saja…

“Aku ingin mencintaimu karenaNYA,,karena DIA berkenan menitipkan cintamu tak lebih banyak kadarnya dibanding cintaku padaNYA..ya..layaknya kau mencintaiNYA..”

Apa itu cukup?Cukupkah hanya itu?Kurasa ini lebih sederhana daripada aku harus mencintaimu karena waktu…

Waktu yang akan berhenti,entah esok,atau lusa,atau kapanpun..

Siapa yang akan tau?Tapi siapa kau??kaukah yang kelak akan jadi mahraku,imam dalam hidup q..Begitukah?

Masih tak cukup sederhana kah?Kurasa lebih dari cukup,cukup karena aku tak mampu menetapkan kriteria lebih untukmu, untuk kau si “Adam” yang buram disana,yang aku pun tak tau seberapa rupawan parasmu,seberapa besar kadar cintamu untuk Sang Khalik,seberapa mampu kau bertahan untuk bisa membimbingku disini..Seberapa beruntungnya aku jika menemukanmu

Sederhana!!!

Hanya ingin mencintaimu dengan sederhana,seperti sederhananya bayangan tentang kau si “adam”…

Aku semakin betah duduk disini,padahal malam semakin menjadi-jadi dinginnya,,sudah waktunya aku tak lagi hanya duduk,sudah waktunya aku menutup apalah itu namanya,renungan,atau apa sajalah,,benar…

Memang benar,,ini waktunya menghapus tentang si “adam” dan melelapkan diri dipangkuan malam…

***

Entah kenapa jadi melankolis???Selalu ada jawaban, meski kau tidak pernah membacanya atau mencoba melihatnya dari kacamatamu

~11 Juni 2010~

Tag:


  • Tidak ada
  • Choi Na'an: Omo... Apa smbungan'y... Meolah pnasaran ja neh...Ppaalliwaa... Gee-ya
  • syhae: hehe..... mampir.... spa tau ada FF diam2... xixi
  • ChoKyuQhiELF13: aku bahkan baru liat komen anda disini..hahaha

Kategori