Chokyuqhielf13's GaemGyuZonE

Arsip

Dia meninggalkanku disaat aku ingin mengenalnya lebih jauh. Aku iri. Tentu, karena hanya aku yang tidak pernah memiliki kenangan terlama bersamanya. Aku selalu merasa jauh dengannya dan aku tidak pernah berkata aku menyayanginya secara langsung. Aku tidak pernah bertanya apa kabar padanya. Apa dia sehat. Apa dia bahagia. Apa dia merindukanku atau apa yang dia inginkan dariku. Aku tidak pernah melakukan apa yang layaknya seorang putri, anak gadis umumnya lakukan untuk ayahnya. Aku belum melakukannya dengan baik. Yang aku lakukan hanyalah meminta apa yang seharusnya seorang ayah berikan untuk anak gadisnya. Hal-hal yang tidak pernah kuduga akan kusesali saat aku melihat tubuhnya yang hangat tidak lagi bergerak, matanya tidak lagi membuka, senyumnya yang khas tidak lagi menghiasi garis wajahnya yang tegas dan berwibawa, serta napasnya tidak lagi berhembus. Ya, saat kehidupan bukan lagi jadi miliknya. 15 tahun yang kulewatkan dengan sia-sia. Inilah kenapa aku iri pada saudara-saudaraku yang lain dan inilah alasan ketika orang-orang selalu berkata. Penyesalan selalu datang belakangan.

Aku merindukan gayanya yang khas saat menonton tv, membaca koran, makan, berjalan, dan semuanya. Terutama saat badan tegapnya yang tinggi dengan baju dinas kerjanya yang sangat pas dibadannya, rambutnya yang selalu tampak rapi, serta sepatu hitamnya yang selalu berusaha dibuatnya mengkilap. Suaranya yang tidak ada bagus-bagusnya saat bernyanyi, tangan hangatnya yang kasar, kentutnya yang anehnya tidak pernah membuat polusi dirumah (karena tidak bau). Dia yang tidak pernah komplain dengan segala ketidaksempurnaan yang anak-anaknya miliki, tidak pernah menuntut anak-anaknya harus jadi apa, tidak pernah menentang anak-anaknya menginginkan apa, tidak pernah bertanya dihabiskan untuk apa uang yang dia berikan saat isteri maupun anak-anaknya kembali meminta uang padanya. Dia yang selalu berusaha memenuhi keinginan keluarganya tanpa banyak protes, jarang marah, tapi selalu memegang kuat prinsipnya. Dia yang diam-diam selalu mematikan lampu kamar, mengusap lembut kepala anak-anaknya dan menyelimuti mereka saat mereka terlelap. Dia benar-benar pahlawan dengan terlalu banyak hal dalam dirinya yang tidak lagi sanggup untuk kutulis satu per satu. Begitulah ayahku. Gagal Ginjal Kronis telah menjadi alasan terakhirnya membiarkanku menangis karena hanya memiliki waktu 15 tahun hanya untuk mengenalnya dan memanggilnya Ayah. Ini jauh lebih sesak dibandingkan saat aku harus patah hati, karena cita-cita terakhirku tidak akan pernah bisa tercapai. Melihatnya menjadi wali di akad pernikahanku…

Bismillahirahmanirahim…(4 Of…)

Iklan

Benar. Sekarang aku sedang berada dalam keadaan yang baik, teramat baik dan tidak akan terlihat sebagai seorang gadis yang mengalami kisah kehidupan yang rumit diluar. Sejujurnya, dia bukan satu-satunya alasan hidupku menjadi rumit. Banyak hal. Luka terbesarku adalah diriku sendiri. Dan sekali lagi, aku tidak yakin sebenarnya. Tapi sepertinya aku adalah seorang introvert yang meski cerewet (dimata keluarga) aku bisa menjamin secara keseluruhan yang benar-benar tahu aku luar dan dalam hanyalah Allah SWT. Lingkungan keluargaku sudah membentukku menjadi seperti ini secara halus. Mengoreskan sebuah luka yang tidak pernah kusadari (atau bahkan pernah tapi selalu kutolak) meski terasa nyeri tapi tidak sedikitpun membuat wajahku meringis dan hanya membiarkanku mencari sendiri obat untuk meredakan nyeri itu. Aku sudahlah terbiasa berkawan dengan nyeri yang meskipun orang lain coba menabur garam dilukaku maka tidak akan berpengaruh banyak. Karena walaupun perih, yang merasakannya hanyalah aku dan melihatnya hanyalah Allah, Tuhanku. Jadi, apa aku terlihat semakin melankolis?

Hanya segelintir orang yang mampu memberikanku keyakinan untuk membagi kisahku, bukan karena aku tidak mempercayai mereka tapi lebih karena sikap cuek yang kumiliki sehingga kadang aku berpikir, semakin aku bercerita semakin orang lain akan ikut menanggung beban yang seharusnya masih mampu untuk kuangkat meski aku hanya sendiri. Jika memilih, maka aku akan memilih perasaan mereka dibandingkan mereka harus melihat aku yang cuma satu orang ini menangisi dan membagi kesedihannya bersama orang lain (mereka). Benarkah jika aku benar-benar seorang pemikir sekarang?

Aku adalah seorang gadis. Kelak akan menjadi wanita. Akan menjadi seorang istri dan seorang ibu. Akulah yang mencari mahram untuk kehidupanku, tapi Allah lah yang akan menentukannya untukku. Aku, malam ini merindukan dia yang kukenal. Setelah cukup lama aku mencoba mencari teman yang lebih baik dari dia yang kukenal, tapi yang kutemukan adalah diriku yang masih sama dengan diriku yang dulu saat masih berusaha mengenal dia sekarang sedang menutup mata dari yang mungkin jauh lebih baik darinya. Dinding hatiku ini mengizinkan dia pergi tapi menolak membiarkan dia yang lain memasuki pintunya. Inilah keegosianku. Keegoisan yang menyakitkan. Aku melepasnya karena aku tidak ingin mengurungnya bersama keegoisanku. Aku membiarkannya pergi karena aku ingin melihat kedua sayapnya berkepak sempurna. Aku membiarkannya berlalu didepanku tanpa meminta sedikitpun dia berhenti dan menenangkanku dengan kata-katanya (saat itu). Ya, aku yang membiarkannya masuk dan keluar dalam kehidupanku berkali-kali. Aku mengizinkannya masuk saat dia ingin masuk dan memperbolehkannya keluar saat kurasakan sudah tidak lagi betah berlama-lama di dalamnya meski dia menolaknya. Karena itulah aku yang bodoh. Aku yang bersalah. Aku tersenyum mengingatnya, masih bisa?. Tentu, karena dia tidak benar-benar menyakiti perasaanku. Dia tidak benar-benar melukai hatiku, karena akulah yang melakukannya sendiri. Dan karena “nyeri adalah kawanku” dan bukan hal aneh karena aku terbiasa bersama nyeri. Nyeriku tidak memiliki skala.

Malam itu. Entah untuk keberapa kalinya, aku kembali mendapati diriku berdebar menerima teleponnya. Aku mengutuk diriku sendiri. Harusnya, dia yang kukenal itu tidak lagi kubiarkan masuk dalam hatiku. Tapi ternyata aku salah, dia bahkan tidak benar-benar kubiarkan pergi dari hatiku. Malam itu, kuhabiskan waktu berlama-lama untuk mengenang kebersamaanku dengannya dulu. Dia yang memulai. Tapi ini jelas kesalahanku sendiri. Pergumulan malam yang jarang sekali kutemui bahkan saat bersamanya (dulu). Terasa menyenangkan (sesaat) saat kembali mendengar suaranya walaupun jarak menjadi penghalang untukku bisa membiarkan mataku menatap tiap lekuk wajahnya yang (hampir) kulupakan saat ini. Aku tahu aku akan merasakannya lagi. Perasaan sesak itu. Tapi egosentrikku memaksaku untuk jalan terus dan berhenti saat dia bilang berhenti. Seharusnya aku mengikuti kata hatiku. Tapi pantang untukku menyesal, terutama karena kebodohan sendiri. Rasanya, seperti kau melihat kumparan air ditengah oase saat kau dahaga. Tapi saat mendekat, dia tak lebih dari sebuah fatamorgana. Beginilah dia yang kukenal sekarang. Fatamorgana paling nyata dihidupku.

Mencintai, pengharapan, dan kasih sayang. Aku merasakannya. Tapi setiap detik yang kuhabiskan untuk meluangkan waktu menyelipkan namanya disetiap doaku hanyalah detik dimana aku sanggup bertopang pada kedua kakiku untuk melihat dia bahagia. Allah yang menjadikanku kuat. Dia bahagia, dan malam itu dia membagi kebahagiaannya padaku. Artinya Allah mengabulkan doaku, dia yang kukenal tidak lagi terjerat dalam jeruji yang dulu kami bangun. Kini dia yang kukenal sudah bebas sepenuhnya. Sesak entah untuk yang keberapa kalinya kurasakan hanyalah bisa kusesap dan kuperlihatkan padanya dengan tawa riang yang dia ingin sekali melihatnya diseberang pembicaraan kami. Dia bertanya banyak hal tentang kebiasaanku yang diingatnya. Aku hanya bisa berterima kasih dalam hati sembari tersenyum padanya. Senyum yang tidak bisa dia lihat. Senyum yang sedikit menyakitkan (harus kuakui). Aku berterima kasih bukan karena pertanyaan-pertanyaannya yang begitu menghiburku malam itu, tapi lebih karena tidak pernah kusangka karena dia masih mengingat sebagian dari diriku. Dia masih mengingat kebiasaanku. Dan dia yang kukenal masih merasa nyaman berbicara denganku. Aku melambung. Iya, hatiku seakan memiliki sepasang sayap untuk terbang setinggi mungkin. Tapi saat kuingat kenyataan yang harus kuterima, adalah dia menganggapku tidak lebih sebagai seorang saudara yang baik dan sekarang aku memutuskan untuk tidak terbang sebelum aku jatuh. Ya. Karena dia telah menemukan apa yang selalu kudoakan dalam setiap munajatku, dalam setiap sujudku. Dia menemukan kembali hatinya. Hati yang baru dan sejak malam itu aku berjanji tidak akan sedikitpun menyentuh hatinya bersama hati yang baru dimilikinya karena akan lebih bijaksana jika aku memilih jalan mencintainya dalam diam sementara aku menunggu Allah mendekatkanku dengan orang baik lainnya selain dia.

Sesak. Sesak. Sesak. Tapi beginilah. Aku memilih merasakan sesak dan membiarkannya tersenyum padaku (meski aku tidak melihatnya malam itu). Dia yang kukenal sebagai pribadi yang baik. Dia yang dengan sopan menyanjung segala sikapku padanya. Dia yang mengenang hal terbaik dariku dimatanya. Sempat kuminta dari dia yang kukenal itu untuk jangan hanya melihat aku yang terbaik dari diriku tapi dia berkata “aku hanya ingin mengingat segala yang baik darimu”. Iya. Aku tahu dan hanya membiarkannya. Entah hal apa yang sedang direncanakan Allah untukku. Tapi hingga detik ini, aku dengan jujur mengatakan hatiku tidak benar-benar bisa melepasnya (sekarang). Dan sebenarnya aku masih menyimpan sedikit harapan kalau aku bisa menjadi salah satu alasan dia untuk bahagia. Ya, meski itu terdengar seperti lelucon. Menjadi bagian dari alasan atas kebahagian orang lain itu sungguh lebih dari cukup meski aku harus mengakhiri sebelum memulainya.

Dia yang kukenal ini memang bukan satu-satunya orang yang menjadi salah satu inspirasi tulisanku. Hal termelankolis yang pernah kutulis adalah saat kehilangan (juga). Mari melihat sisi lain dariku, melankolis itu bukan hanya karena kehidupan asmara semata. Hidupku tidak melulu tentang cinta untuk lawan jenis. Aku akan bercerita tentang satu sosok yang sudah memberikan separuh sifat genetiknya pada diriku. Sosok yang sudah menghilang. Kehilangan yang lebih menyakitkan dari sekedar kehilangan dia yang kukenal. Kehilangan paling menyedihkan sehingga saat kau mengalaminya lagi, ada alasan dimana kau masih bisa berdiri tegak dan tersenyum atau mungkin berkata “Ini tidak seberapa dibandingkan saat aku ditinggal mati ayahku”. Aku pantas iri hati terhadap saudara-saudaraku sendiri, karena dibandingkan mereka waktu yang kumiliki adalah paling singkat sepanjang usiaku. Aku hanya punya 15 tahun waktu bersamanya, dan pantas jika aku suatu saat akan menyesal karena telah melewatkan banyak sekali waktu berhargaku bersamanya, satu-satunya seorang sarjana hukum idolaku. Aku tidak benar-benar mengenalnya. Sosok seorang ayah…

Bismillahirahmanirahim…(3 Of)

Menulis bukanlah hobiku. Yah kerap kali aku dituntut oleh sahabat-sahabatku agar bisa menuangkan setiap ide, imajinasi, maupun pengalaman dalam bentuk tulisan karena mungkin mereka menganggap tulisanku cukup baik walau pada dasarnya aku tidak terlihat memiliki bakat dalam bidang ini dan dengan bercanda aku selalu berkata “Lagi gak dapet ilham” padahal aku tetaplah amatir yang berusaha terlihat profesional. Belum maksimal memang, setidaknya aku sudah berusaha. Siapa yang akan menyangka kalau someday (mungkin) tulisanku akan dibukukan dan menjadi best seller dengan penjualan terbanyak setiap tahunnya?mungkin saja kan (abaikan saja bagian ini). Wow, jiwa narsistik juga salah satu hal yang aku miliki. Alamiah sebenarnya, coba saja telaah diri masing-masing. Adakah yang benar-benar lurus?

Ya, kemudian menulis bukanlah suatu hal yang aku lakukan atas dasar mencintai tapi lebih karena aku menyukainya. Setiap detail tulisan yang bisa menarik perhatianku akan kubaca dengan hikmat, itulah salah satu alasan kenapa aku lebih menyukai menemukan diriku dalam keadaan serius menekuri novel dibandingkan dengan diriku yang santai bersama komik yang jauh lebih menghibur dan merubah suasana hati yang bisa saja tidak dalam keadaan baik-baik saja. Aku lebih menyukai berimajinasi dalam kata dibandingkan harus berimajinasi bersama gambar. Dan bagiku, imajinasi ternyata yang bisa kubangun adalah saat aku membaca sebuah novel, cerpen, dan jenis-jenis narasi lainnya. Lebih menyenangkan saat melihat dirimu sendiri mengambarkan objek yang sedang kau baca dalam pikiranmu. Pikiran yang hanya bisa dilihat oleh penciptamu. Pikiran yang bisa kau sembunyikan dengan baik kala kau melihat kedepan dengan wajah dihiasi senyum terbaik yang kau punya. Pikiran misteriusmu.

Aku juga menyukai puisi, setiap kiasan penuh makna yang selalu membuatku senang untuk menjajaki tiap kata didalamnya karena aku terlahir dengan membawa sifat ingin tahu yang cukup besar dan aku adalah tipe orang yang tidak akan berhenti sebelum aku benar-benar memahami makna dibalik tiap baitnya meski hanya satu kata dan itulah kenapa aku lebih memilih puisi untuk menceritakan segalanya yang kulihat secara personal dengan audio visual pribadiku. Dunia yang hanya ada aku didalamnya, menunjukan “aku” secara tersirat kepada dunia luar. Dunia yang lebih rumit, bahkan jika kau dalam keadaan sedang memejamkan mata sekalipun. Life is our real drama.

Kupikir aku menyukai seni meski pada kenyataannya aku buta seni. Aku melakukannya hanya saat-saat aku ingin (seperti sekarang) dan mood selalu mempengaruhiku untuk itu semua. Perasaan sedih (tidak bisa kupungkiri) selalu memberiku lebih banyak inspirasi untuk melahirkan suatu tulisan dibandingkan saat aku sedang bahagia, sebuah motivasi cantik dari hal kecil yang kadang tidak kalian sadari. Banyak hal yang membuatku terinspirasi untuk menggerakan ruas-ruas jariku masuk dalam kubangan kata acak yang harus kususun layaknya puzzle yang belum menghasilkan bentuk apapun. Abstrak yang sangat indah. See, tidak selamanya perasaan sedih ataupun terluka itu tidak akan menghasilkan sesuatu. Kadang tanpa kita sadari, kita sudah belajar banyak hal dari sana. Sebuah pelajaran hidup yang tidak akan ditemui dalam teori apapun.

Malam inilah dari banyak malam yang kumiliki dan sudah lewati, ada satu kesempatan dimana hatiku sedang diliputi perasaan sesak (lagi). Lihat betapa melankolisnya bukan. Tapi aku mendapatkan kenikmatan tersendiri, setiap hal yang kutulis mampu menjadi obat untuk hatiku. Jika ada yang berkata racun harus dilawan dengan racun. Mungkin aku sedang mengalaminya. Inilah caraku sembuh dari penyakit yang aku sendirilah yang membuatnya. Mampu menjadi senyum untuk hari-hariku. Karena saat ini sudah berlalu sangat lama, kau akan menyadari seberapa dewasanya kau saat itu. Ini akan menjadi menyenangkan saat kalian membacanya beberapa tahun kedepan. Serius. Kau akan melihat sisi lain dari dirimu, dan bisa terlihat kau memiliki bakat untuk menghibur orang lain (terutama untuk dirimu sendiri). Itu jika kalian bukan benar-benar seorang pelawak.

Sesak yang malam ini kurasakan adalah karena seseorang yang kukenal dan mengorbankan dirinya sendiri menjadi salah satu dari cerita kehidupanku yang baru 20 tahun berjalan dan itu bahkan belum mencapai seperempat abad. Dan mungkin karena itulah orang itu (dia yang kukenal) mengatakan aku seorang yang melankolis. Orang yang kukenal, tidak cukup baik memang tapi kurasa aku cukup yakin untuk mengatakan dia adalah orang yang baik. Seorang bernama dia yang kini (saat tulisan ini kubuat) mampu membuatku tersenyum meski dia tidaklah pernah memiliki kesempatan untuk tahu lebih banyak tentangku, begitu pula sebaliknya denganku. Dia yang dari masa lalu.

Jadi, prolog yang kutulis sepanjang ini hanya untuk memparodikan seorang ‘dia’ yang kukenal? Entahlah, tapi karena dialah alasan kenapa hatiku begitu sesak dan dia adalah salah satu alasan bagiku bisa menghasilkan tulisan ini sekarang. Merupakan keuntungan bagiku meskipun kerugiannya tentu hanya aku yang merasakan. Melegakan karena akhirnya, aku bisa menemukan diriku meluangkan waktu untuk bisa membuat sedikit narasi tentangnya sehingga suatu saat jika aku melupakan orang ini aku masih bisa mengingat sedikit tentangnya melalui tulisan yang kubuat. Dia memang bukanlah satu-satunya orang spesial dalam kehidupanku. Tapi hidupku sempat spesial karena kehadirannya. Kembali lagi kurasakan perasaan ini. Sesak disaat bersamaan. Yang sedang membaca ini mungkin berpikir aku terlalu berlebihan sekarang. Tapi, bukanlah tujuanku untuk mengumbar apa yang tidak seharusnya kuumbar meski ini adalah kawasan aman yang kupunya sekarang. Yang ingin kulakukan sekarang adalah melepaskan satu per satu segala yang kuingat tentang orang ini dengan cara paling sopan dan bermartabat yang pernah ada dan sekarang sedang berusaha kulakukan. Sehingga saat aku mengenangnya, yang kuingat bukan lagi perasaan sesak karena aku tidak lagi memiliki hak mendapatkannya kembali untuk masuk dalam hidupku namun adalah betapa aku masih memiliki sedikit kemampuan untuk mengemasnya menjadi sesuatu yang menyenangkan untuk kuingat. Dan inilah caraku menghargai sebuah kebahagiaan. Koping yang tidak biasa.

Bismillahirahmanirahim…(2 Of…)

13 November 2012, 22.08 WIB

Bismillahirahmanirahim…
Catatan tentang sebuah kepribadian…
Sedikit goresan abstrak pada selembar garis pembatas kehidupan, kertas yang tadinya tidak bercela menghitam kemudian, pekat melekat…
Membentuk simpul yang akan sulit untuk dilepaskan…
Rumit mengamit lengan-lengan perkasa yang melenguh mengaungkan nyeri dipojok hari, mimiknya berubah sendu…
Beginilah, ketika semua menjadi remasan kasar puing-puing fatamorgana…
Saat itu, hanya ufuk yang berani menatapku!

13 November 2012, 22.10 WIB

Aku ingin sedikit berbagi kepada kalian, orang-orang yang berada didekatku tapi tidak cukup baik untuk mengenalku. Hari ini aku masih sama melankolisnya (mungkin). Mengingat ada satu hal yang sedikit mengganjal di dasar terdalam yang hanya aku dan Tuhan yang mampu menyelaminya, sebuah perasaan. Malam. Ini akan menjadi salah satu malam yang akan kuingat sepanjang hidupku. Mungkin karena malam adalah waktu dimana orang-orang sudah terlelap dan bergelut dengan dunia mimpinya, aku justru terbiasa bangun dan merenungi apa yang sudah terjadi padaku entah itu hari ini atau hari-hari sebelumnya. Mungkin sedikit aneh bagi sebagian orang. Merenungi apa yang terjadi, tapi begitulah caraku untuk bisa menilai diriku sendiri. Seberapa besar koping yang kumiliki untuk mengatasi stressor (yang tentunya bukan hanya aku yang memilikinya), orang-orang juga punya meski itu dalam kadar yang berbeda pada setiap orang. Malam inilah, saat cuaca tidak sehangat yang kuharapkan tapi tak jua sedingin yang kukira.

Mari sedikit mengenal satu sama lain. Kupikir, aku tidak akan berbagi pengalaman yang menyenangkan dalam hidupku tapi lebih kepada sebuah pengalaman yang secara keseluruhan tidak bisa kubagi dalam porsi penuh. Aku hanyalah seorang berumur 20 tahun terhitung sejak bulan april 1992 silam, dan ini sudah bulan ke-7 sejak april ke-20 tahunku berlalu. Itu artinya, beberapa tahun ke depan aku harus bisa sukses bersama resolusi-resolusi yang kubuat. Tentu saja, rencana adalah hak manusia. Namun, hasil adalah mutlak hak Tuhan. Sehingga aku hanya bisa berencana dan keputusan akhir hanya Tuhan Yang Mengetahuinya. Aku memiliki banyak rencana yang tidak semuanya berjalan sesuai apa yang kuharapkan. Tentu saja, karena sudah kodratnya begitu. Sekali lagi, hasil akhir mutlak milik Tuhan! Tapi luar biasanya, Allah menggantikan semua kegagalan itu dengan banyak hal yang lebih baik dari apapun bahkan dari apa yang kuminta. Dan alhamdulillah, aku sangat mensyukurinya. Inilah nikmat ketika kalian tidak pernah berhenti bersyukur, meski keadaan tidak pernah sesuai dengan keinginan yang kalian buat. Percayalah. Diujung sana entah dimanapun itu, jalan Tuhan tidak pernah bisa ditebak dan selalu akan indah pada waktunya.

November rain. Adalah saat aku memilih objek diam ini untuk bercerita, bukan karena aku sudah kehabisan stok manusia yang bisa kupercaya di bumi ini. Tapi karena saking pemikirnya, aku selalu beranggapan mereka semua (orang-orang terdekatku) pasti akan mudah jenuh mendengar kisah hidupku yang mungkin akan terdengar tidak menarik. Salah satu kelemahanku didepan Tuhan, terlalu memikirkan hal yang belum tentu benar. Entah itu yang namanya spekulasi atau kemungkinan paling menakutkan jika ternyata ini adalah buruk sangka (yang dalam kepercayaan yang kuanut dikenal dengan suudzon). Aku benar-benar merasa nista. Inilah pergumulan batin yang paling tidak kusukai, membuatku selalu gagal bersikap jujur pada orang-orang terdekatku yang benar-benar baik tapi bukan berarti aku adalah seorang pembohong. Hanya saja, aku tidak mudah untuk berbagi. Sedikit merugikan diri sendiri sebenarnya, karena jelas akan terus dibayangi perasaan-perasaan yang kalau kuanalogikan ini seperti sebuah pipa yang mengalirkan air ke sebuah saluran air tapi tiba-tiba tersumbat sehingga aliran air yang keluar hanya sedikit. Semacam itulah. Terasa sesak, namun karena egoisme berlebihan dan tingkat ke-paranoidan mendominasi kau hanya bisa merasakannya sendiri. Bahkan oksigen yang mengaliri tiap pembuluh darah hingga ke paru-paru pun selalu terasa tidak mencukupi untuk membuat otakmu berpikir hal-hal yang lebih jernih.

Ya, memikirkan dengan detail setiap kata yang akan keluar dari mulutku sudah menjadi semacam kebiasaanku sejak dulu walau tidak kupungkiri mulutku sendiri juga bisa bergerak tanpa rem dalam satu kondisi tertentu yang menuntutku untuk berbicara hal-hal yang tidak sinkron dengan apa yang otakku pikirkan. Sehingga akhirnya, objek tak bergerak inilah jadi pelampiasanku. Menulis yang tidak pernah kumulai dan kuakhiri dengan semestinya. Objek yang secara tidak langsung telah membantuku jujur dengan cara terbaik yang pernah kulakukan. Akhirnya, berusaha mencari pembenaran tetap saja menjadi salah satu kodratku sebagai manusia. Oh ayolah, kita semua tidak pernah berpikir kalau kita sempurna kan?

Bismillahirahmanirahim….

Terima kasih..:)
Mungkin gw bukan orang yang pandai nulis kali yah..menulis adalah hobi yang gak pernah gw kembangkan dengan sangat baik…menulis adalah hal yang akan gw lakuin tergantung gimana warna hati gw saat itu. Well, terima kasih. Gw?adalah tipe orang yang maybe mengarah ke introvert walau kadang-kadang bisa menjadi orang yang paling terbuka sama orang yang bener-bener gw percaya. Terima kasih untuk siapa?All of u, that’s it. Tapi satu yang gak mungkin bisa membuat gw berenti bersyukur. Allah SWT dan orang tua gw yang udah bersedia ngikrarin janji sama Allah buat ngelahirin gw, ngasuh, ngerawat, dan nyayangin gw sampe umur segini nih. Ntah gw harus bikin ekspresi kayak apa, mengingat umur gw baru 20 tahun sodara-sodara. Yeah, gw mau bilang muda tapi toh juga anak-anak sekarang banyak yang “unyu-unyu” getoh. Pake banget lagi #iniapasih? Dan jelas gw belum tua-tua amat.

Siapapun kalian yang udah bersedia jadi bagian dalam hidup gw dan ntah kenapa tiba-tiba auranya jadi melow dramatis kayak gini juga gw gak tau ya, yang jelas gw cuma mo bilang makasih buat kalian. Separuh hidup gw udah diwarnai cerita bersama kalian. Bahkan sejak pertama kali gw melek di dunia…LOL

Jujur, gw gak percayaan ma orang. Dan ini ntah kenapa juga gw mesti nyampah gak jelas gini di wp yang notabene biasanya cuma buat gw numpahin orat-oret *?* gak jelas gw tentang khayalan gw, imajinasi gw yg gw tuangin dalam epep yang sayangnya sama gak jelasnya dengan gw sekarang…perlu diinget nih, gw seorang fangirl. Gw kpopers dan gw addicted banget sama yg namanya Super Junior…bahkan gw masukin SJ dalam lembar persembahan KTI gw kemaren…kekeke. Ok balik lagi kebenang merah #NahLho.

Yups, gw udah bilang dan selalu bilang. Gw amatiran. Gw gak bisa nulis, dan gw gak tau kenapa gw sekarang bikin prolog sepanjang tembok cini gini. Yang jelas gw ngerasa jleb aja gitu. Ntah kenapa, lonely kali ya. Gw punya sahabat yang kalo gw mau juga gw bakalan curhat setiap hari setiap waktu kapanpun dimanapun kayak iklan di tipi dan dengan senang hatinya mereka bakalan welcome dengan tangan tak selebar daun kelor nanggepin curhatan gw, tapi bodohnya gw. Gw gak bisa ngelakuin itu. I dont know why, bukan gara-gara gw gak percaya sama mereka. But sometimes, hati kecil gw ngelarang dan ujung-unjungnya yang paling afdol bisa gw lakuin adalah ambil wudhu trus sholat dan byurrr..tumpahlah semua didepan sajadah gw. Gw nangis deh, gw cerita semuanya sama Allah padahal tanpa gw ceritapun Allah sudah pasti tau banget gimana gw, dan ya itulah salah satu pekerjaan favorit gw. Tell ’bout everything sama Allah dan itu tuh udah semacam kewajiban buat gw pribadi, gw selalu punya sugesti saat gw ngeluarin semuanya, saat gw nangis sekenceng-kencengnya dihadapan Allah gw selalu optimis apapun yang gw ucapin, apapun yang gw keluhin, apapun yang gue doain pasti bakalan didenger sama Allah tapi ntah kapan dikabulin itu semua cuma Allah yang tau….

A Little Secret…(1 Of…)



  • Tidak ada
  • Choi Na'an: Omo... Apa smbungan'y... Meolah pnasaran ja neh...Ppaalliwaa... Gee-ya
  • syhae: hehe..... mampir.... spa tau ada FF diam2... xixi
  • ChoKyuQhiELF13: aku bahkan baru liat komen anda disini..hahaha

Kategori